Tampilkan postingan dengan label RIWAYAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RIWAYAT. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Desember 2015

Pembunuhan pelacur indo yang hebohkan Batavia

Reporter : Ramadhian Fadillah

fientje. ©2012 Merdeka.com/4.bp.blogspot.com
Merdeka.com - 17 Mei 1912, Batavia heboh. Sesosok mayat wanita muda ditemukan mengapung di Kalibaru. Mayat gadis indo itu terbungkus dalam karung dan tersangkut pintu air.

Masyarakat makin heboh saat mengetahui siapa yang tewas. Namanya Fientje de Feniks, seorang pelacur yang kerap dikunjungi para pembesar dan orang kaya. Untuk ukuran saat itu, Fientje jadi idola. Wajahnya campuran Indonesia dan Eropa. Matanya besar dengan hidung mancung dan bibir sensual. Rambutnya panjang, hitam dan berombak. Saat tewas usianya belum lagi 20 tahun.

Sehari-hari, Fientje tinggal di rumah pelacuran milik Umar. Demikian ditulis dalam Ensiklopedi Jakarta yang diterbitkan Pemprov DKI Jakarta tahun 2005.

Tewasnya Fientje menjadi fokus pemberitaan koran-koran saat itu. Masyarakat penasaran dengan setiap perkembangan terbaru kasus Fientje.

Komandan Polisi Batavia, Komisaris Reumpol menangani kasus ini. Reumpol memeriksa setiap saksi dengan teliti. Akhirnya dia menemukan titik terang ketika seorang pelacur teman Fientje bersaksi. Pelacur itu bernama Raonah, dia melihat langsung seorang pria bernama Gemser Brinkman mencekik Fientje dari sela-sela bilik bambu.

Brinkman bukan orang sembarangan. Dia cukup punya pengaruh di Batavia saat itu. Brinkman juga anggota Sociteit Concordia yang berisi pembesar-pembesar Belanda.

Wartawan Senior Rosihan Anwar menulis soal sidang Brinkman ini. Raonah sempat dituding berbohong dan memberikan keterangan palsu oleh pengacara Brinkman. Pengadilan bahkan sempat mengirim tim untuk mengecek tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan di lokalisasi milik Umar.

Raonah bersikeras pada pendapatnya. Dengan yakin dia berkata pada ketua majelis hakim.

"Tuan, saya seorang perempuan, jadi saya penakut. Tapi saya katakan sekali lagi, laki-laki itu yang melakukan pembunuhan," ujar Raonah.

Pengadilan akhirnya mengganjar Brinkman dengan hukuman mati. Awalnya Brinkman yakin eksekusi tidak akan jadi dilakukan. Dia berfikir tidak mungkin seorang kulit putih terhormat seperti dirinya dihukum mati hanya karena membunuh pelacur indo. Dia juga percaya pengaruh teman-temannya di Sociteit akan membantu memperingan hukumannya.

Tapi Brinkman salah, pengadilan tetap berniat mengeksekusinya. Dia pun stres, dan berteriak-teriak terus dalam selnya. Akhirnya Brinkman bunuh diri dalam sel.

Ada beberapa versi soal pembunuhan ini. Ada yang mengatakan Brinkman sebenarnya tidak membunuh Fientje saat itu juga. Tetapi dia menyuruh algojo bernama Silun bersama dua anak buahnya. Silun yang akhirnya mencekik Fientje hingga tewas. Sial bagi Silun, Brinkman belum membayarnya lunas. Dia baru dibayar persekot atau uang mukanya saja. Brinkman keburu tewas saat Silun ditangkap.

Mengenai motif pun berbeda-beda. Sebagian pihak meyakini Brinkman membunuh Fientje karena cemburu. Dia sebenarnya sudah ingin menjadikan Fientje sebagai gundik, namun ternyata Fientje masih juga melayani laki-laki lain.

Kisah soal Fientje ini juga ditulis dalam Novel karangan Pramoedya Ananta Toer. Di buku 'Rumah kaca', Pram juga memasukan kisah soal pembunuhan ini. Namun Pram mengganti nama Fientje de Feniks menjadi Rientje de Roo.
[ian]

Sunda Kelapa sudah ramai sejak abad kedua belas. Mulanya, tempat ini bernama Pelabuhan Kalapa. Menjadi pintu terdepan bagi Kerajaan Pajajaran yang beribukota di Pakuan.

Dream .co.id - Pelabuhan di pesisir utara Jakarta itu tak pernah mati. Selalu ramai oleh kegiatan manusia. Kapal-kapal kayu raksasa pun seolah terus terjaga. Melakukan bongkar muat barang dari lambung dan geladaknya.
Itulah kesibukan Pelabuhan Sunda Kelapa. Salah satu pelabuhan di Jakarta yang terletak di Penjaringan, Jakarta Utara. Pelabuhan tua ini pula yang menjadi salah satu pintu gerbang penyebaran Islam di Jawa sekaligus menjadi cikal bakal Kota Jakarta.
Sunda Kelapa sudah ramai sejak abad ke dua belas. Mulanya, tempat ini bernama Pelabuhan Kalapa. Menjadi pintu terdepan bagi Kerajaan Pajajaran yang beribukota di Pakuan —sekarang masuk wilayah Bogor. Kala itu, kapal-kapal dari penjuru nusantara sudah bersandar di sini.
Pelabuhan ini terletak di muara Kali Ciliwung. Laporan Portugis menyebut dulu pelabuhan ini membujur sepanjang satu atau dua kilometer di kedua tepi Kali Ciliwung. Menurut catatan itu, Kali Ciliwung bisa dimasuki 10 kapal dagang yang masing-masing berkapasitas sekitar 100 ton.
Pada tahun 1817, Belanda memperbesar pelabuhan ini menjadi 1.825 meter. Setelah zaman kemerdekaan, kembali direhabilitasi sehingga pelabuhan ini memiliki kanal sepanjang 3.250 meter yang dapat menampung 70 perahu layar dengan sistem susun sirih.
Letak Pelabuhan Kalapa memang strategis. Sehingga pelabuhan ini menjadi pusat perniagaan. Kapal-kapal asing dari China, Jepang, India Selatan, dan Timur Tengah, merapat di pelabuhan ini dengan berbagai barang dagangan.
Para pedagang Arab menjadi salah satu kelompok yang singgah dan menetap di pinggir pesisir ini. Selain berdagang, saudagar-saudagar ini menyebarkan Islam di Tanah Betawi. Komunitas Islam dari Arab ini kemudian hari digeser oleh Belanda ke kampung yang diberi nama Pekojan —sekarang masuk wilayah Jakarta Barat.
Peninggalan-peninggalan penyebaran Islam tempo dulu masih bisa terlihat di sekitar daerah itu. Banyak masjid-masjid tua yang dibangun masih berdiri hingga kini. Sebut saja Masjid Al Anshor, Masjid An Nawier, dan Langgar Tinggi.
Saking strategisnya, bandar laut itu menjadi rebutan. Pada 21 Agustus 1522 Raja Sunda membuat perjanjian dengan Portugis untuk membendung serangan Kesultanan Demak dan Cirebon yang memeluk Islam. Portugis diizinkan membangun benteng di pelabuhan itu.
Kesultanan Demak kebakaran jenggot. Perjanjian itu dianggap jadi ancaman. Dikirimlah Fatahillah oleh Demak untuk mengusir Portugis sekaligus merebut Kalapa. Pada 22 Juni 1527, pasukan Demak dan Cirebon merebut Pelabuhan Kalapa. Nama itu diubah menjadi Jayakarta. Tanggal itu juga diperingati sebagai hari jadi Kota Jakarta hingga kini.
Kekuasaan Demak di Jayakarta akhirnya runtuh. Setelah pada 30 Mei 1619, Jayakarta direbut Belanda di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen. Diubahlah Jayakarta menjadi Batavia. Sebutan itu diambil dari nama suku Keltik yang pernah tinggal di Belanda.
Pertengahan 1800-an, Pelabuhan Sunda Kelapa tak ramai lagi. Terjadi pendangkalan di pelabuhan itu. Sehingga kapal-kapal tak bisa lagi merapat. Barang-barang yang diangklut kapal besar harus diusung dengan perahu kecil menuju daratan. Sebagai gantinya, dibangunlah Pelabuhan Tanjung Priok yang terletak lima belas kilometer di sebelah timur.
Pada 1942, ketika Jepang berkuasa, nama Batavia diubah menjadi Jakarta. Dua tahun berselang, saat Belanda kembali memerintah, nama itu tak diubah. Baru pada tahun 1970-an, pemerintah mengubah nama pelabuhan itu menjadi Sunda Kelapa.
Kini, Pelabuhan Sunda Kelapa masih difungsikan. Banyak kapal-kapal kayu yang bersandar di sini mengangkut berbagai kebutuhan masyarakat. Mulai sembako, kayu, hingga kain. Selain masih sibuk dengan aktivitas perniagaan, Pelabuhan Sunda Kelapa juga menjadi tujuan wisata bahari yang patut dikunjungi. (Dari berbagai sumber)

Minggu, 06 September 2015

Daan Mogot Bukan Sekadar Nama Jalan, Inilah Pertempuran Terakhirnya

DAAN Mogot berumur 17 tahun ketika Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Pemuda kelahiran Manado, 28 Desember 1928 itu mati muda. Gugur saat hendak melucuti senjata tentara Jepang di desa Lengkong, Serpong, Tangerang.  
Mayor Daan Mogot. Foto: Istimewa.

Hari itu almanak bertarekh 25 Januari 1946. Ba’da Sholat Jumat, Mayor Daan Mogot memimpin para taruna Akademi Militer Tangerang (AMT) berangkat dengan tiga truk dan satu jip militer dari markas Resimen IV TRI menuju markas Jepang di desa Lengkong. 
Dalam rombongan itu ada empat orang eks Gurka--tentara bayaran Inggris--dari India yang membelot ke republik. Ke-empatnya didandani bak pasukan Sekutu. Mengenakan uniform ala tentara Inggris. Maksudnya mau tipu-tipu, seolah itu operasi gabungan TKR-Sekutu sebagai pemenang perang dunia kedua yang akan melucuti Jepang.
Aksi ini sudah direncanakan baik-baik oleh Daan Mogot, selaku pendiri sekaligus Direktur Akademi Militer Tangerang bersama Kapten Soebianto Djojohadikoesoemo dan Letnan Soetopo. “Keberangkatan siang itu diliputi suasana optimis,” tulis Moehkardi dalam buku Pendidikan Perwira TNI AD di Masa Revolusi
Sesampai di tujuan, Daan Mogot berunding dengan Kapten Abe, pimpinan tentara Jepang di Lengkong. Mereka sudah saling kenal sebelumnya, mengingat semasa pendudukan Jepang, pemilik nama asli Elias Daniel Mogot ini pernah menjadi pelatih PETA di Bali dan Jakarta. 
Perundingan berlangsung baik. Daan didampingi Alex Sajoeti, taruna AMT yang mahir berbahasa Jepang. Di luar ruang runding, Soebianto dan Soetopo sudah mengerahkan para taruna AMT masuk barak. Sekira 40 serdadu Jepang dijejer di lapangan. Senjata mereka dikumpulkan. Para “saudara tua” itu termakan muslihat. 
“Mereka percaya bahwa yang sedang bertugas adalah operasi gabungan TKR-Sekutu,” tulis Rosihan Anwar, Ramadhan KH, Ray Rizal, Din Madjid dalam buku Kemal Idris--Bertarung dalam Revolusi

Tiba-tiba sore yang tenang itu berubah gaduh. Terdengar rentetan senapan. Entah dari mana arahnya. Ini terjadi di luar rencana. Serdadu Jepang yang sudah terlatih sontak merebut senjata. Terjadi baku tembak hingga “perkelahian sangkur satu lawan satu,” kenang Moehkardi.
Pasukan republik tak mampu mengalahkan saudara tua. Daan Mogot, dua perwira yang mendampinginya--Soebianto dan Soetopo--serta 33 orang taruna AMT gugur. Tiga puluhan orang lainnya ditawan. Para tawanan dipaksa menggali dan mengubur para kawannya.    
Empat hari kemudian, 29 Januari 1946 diadakan pemakaman ulang. “Saya spesial datang ke situ sebagai wartawan harian Merdeka,” kenang Rosihan Anwar.  
Hari itu, sebagaimana ditulis Rosihan, banyak pejabat hadir. Ada Haji Agus Salim, yang anaknya Sjewket Salim—taruna AMT turut gugur. Hadir juga Margono Djojohadikusumo pendiri BNI yang kehilangan dua putranya; Kapten Subianto dan taruna Soejono.
Saat prosesi pemakaman ulang, dari kantong baju jasad Soebianto--paman dari Prabowo Soebianto yang tempo hari nyapres--ditemukan selarik puisi karya Henriette Roland Holst, penyair perempuan komunis Belanda sahabat Bung Hatta. 

wij zijn de bouwers van de temple niet/wij zijn enkel de sjouwers van de stenen/wij zijn het geslacht dat moest vergaan/opdat een betere oprijze uit onze graven
Rosihan menerjemahkan, “kami bukan pembangun candi/kami hanya pengangkut batu/kamilah angkatan yang mesti musnah/agar menjelma angkatan baru/di atas kuburan kami telah sempurna.”
Kini, sajak itu terukir di pintu gerbang Taman Makam Pahlawan Taruna, Tangerang. Dan untuk mengenang keberanian sang pemimpin pertempuran tersebut, nama Daan Mogot diabadikan pada sebuah jalan raya di Jakarta Barat. (wow/jpnn)

Jumat, 21 Agustus 2015

Kisah Pak Harto kecewa lihat Patwal Polisi tak pedulikan rakyat

Reporter : Ramadhian Fadillah

 Jangan sampai rombongan presiden mengganggu aktivitas rakyat terlalu lama. Apalagi untuk urusan yang bukan kedinasan.

- Soeharto
Soeharto. ©repro Museum Purna Bhakti Pertiwi

Merdeka.com - Banyak orang merasa paling penting di jalan. Mulai dari konvoi moge hingga arak-arakan pejabat. Apalagi jika sudah dikawal aparat.

Ada cerita menarik soal pengawalan polisi. Presiden Kedua RI Soeharto mengaku sempat kecewa dengan sikap polisi yang mengawalnya. Dia menganggapnya terlalu berlebihan dan membuat pengguna jalan lain terganggu.

Kisah tersebut diceritakan Jenderal (Purn) Wiranto yang saat itu masih berpangkat kolonel dan menjadi ajudan Pak Harto. Rombongan presiden melaju dari Istana Negara menuju Bandara Halim untuk terbang ke daerah. Di pintu Tol Semanggi, Wiranto mengaku pundaknya ditepuk Soeharto.

"Wiranto, beri tahu polisi, itu kendaraan di jalan tol tak perlu diberhentikan. Mereka itu membayar untuk bebas hambatan, bukan malah distop gara-gara presiden lewat. Kalau mereka dibiarkan jalan pelan-pelan kan tidak mengganggu rombongan,"
kata Wiranto menirukan ucapan Soeharto kala itu.

Wiranto mengaku terkejut dengan permintaan Soeharto. Sebagai presiden yang memiliki prioritas di jalan, ternyata Soeharto masih memikirkan pengguna jalan lain.

Peristiwa kedua terjadi saat Soeharto akan main golf di Rawamangun. Selain mobil presiden, hanya ada satu jip pengawal di belakang yang mengikuti. Namun rupanya polisi sudah terlalu lama menutup jalan. Klakson terdengar riuh di jalan.

"Lain kali polisi tidak perlu menyetop mereka terlalu lama. Mereka kan punya keperluan yang mendesak, sedangkan saya hanya mau berolahraga. Jadi biar saja saya menunggu sebentar, kan tidak apa-apa," kata Soeharto.


Menurut Wiranto, Pak Harto berkali-kali meminta adanya perbedaan antara pengawalan dinas dan pengawalan untuk sehari-hari. Jangan sampai rombongan presiden mengganggu aktivitas rakyat terlalu lama. Apalagi untuk urusan yang bukan kedinasan.

"Pergi ke Tapos yang jaraknya cukup jauh sekalipun, Pak Harto hanya dikawal secukupnya. Tidak mencolok dan tidak harus mengganggu aktivitas masyarakat," beber Wiranto.

Nah, kalau Presiden Soeharto saja dulu begitu memikirkan pengguna jalan lain, apa tidak malu mereka yang masih arogan di jalan?

Minggu, 19 Juli 2015

Begini Salat Id di Zaman Penjajahan Belanda yang Digelar di Lapangan Banteng

Laporan Dari Den Haag - Eddi Santosa - detikNews
Foto: dok bataviadigital.perpusnas.go.id

Den Haag - Salat di lapangan dengan pengeras suara tidak dilarang. Pemerintah kolonial bahkan menyediakan transportasi ekstra. Begini suasana Idul Fitri di Batavia ketika zaman Belanda.


Pelaksanaan ibadah salat Idul Fitri di zaman penjajahan Belanda tidak dilarang dan bahkan diizinkan di tempat terbuka. Salah satunya yang diliput oleh media adalah di Waterlooplein (Lapangan Waterloo), kini Lapangan Banteng.

"Tahun ini adalah kedua belas kalinya ibadah ritual semacam itu diselenggarakan di tempat terbuka di ibukota negara," tulis Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie, halaman 6 kolom 2 (9 November 1939) dikutip detikcom, Minggu (19/7/2015).

Sebelum hari raya, media sudah mewartakan apakah Aidil Fitri-gebed (salat Id, red) di Waterlooplein jadi dilaksanakan atau tidak.

Panitia untuk salat Id di Waterlooplein terdiri dari 14 organisasi massa dan mendapat sokongan dari berbagai pihak.

Pada hari Idul Fitri pemerintah mengerahkan tram ekstra dari Meester-Cornelis dan Benedenstad (Batavia Lama, kini Kota, red) untuk memudahkan mobilitas umat Islam menuju Waterlooplein.

Demikian juga dengan pengeras suara dibolehkan dipasang, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Bertindak selaku khotib adalah Hadji Mochtar, mantan anggota Mohammadijah, kini anggota Hof voor Islamietische Zaken (Mahkamah Urusan Agama Islam), sementara Hadji Mohamad Isa, Ketua Hof voor Islamietische Zaken sebagai imam.
(es/dra)

 

Rabu, 08 Juli 2015

Pilot Inggris percaya orang Indonesia ini bawa hoki saat perang

Reporter : Ramadhian Fadillah

Halim Perdanakusuma. ©repro buku Baret Jingga
Merdeka.com - Pria ini lahir di Sampang Madura tahun 1922. Sempat bergabung dengan Angkatan Laut Belanda. Saat Jepang datang menyerang, kapalnya ditorpedo Jepang hingga karam.

Beruntung nyawanya diselamatkan kapal perang Inggris. Dia pun dibawa ke India. Pria tersebut kemudian meminta bergabung dengan Royal Air Force. Dia kemudian bergabung dengan skadron pesawat pengebom Inggris dan menjadi perwira navigasi. Selama bertugas, dia tercatat 42 kali melakukan bombardir di wilayah Jerman dan Prancis.

Setiap dia ikut misi pengeboman, seluruh pesawat bisa pulang dengan selamat. Padahal biasanya serangan ke wilayah musuh selalu memakan korban akibat amukan meriam antipesawat udara milik Jerman.

Karena itu pria Indonesia dianggap membawa keberuntungan bagi para pilot dan kru pesawat Lancaster dan Liberator Inggris. Dia diberi julukan The Black Mascot atau si jimat hitam oleh rekan-rekannya.

Nama asli The Black Mascot adalah Abdul Halim Perdanakusuma. Begitu Indonesia merdeka, dia bergabung dan menjadi salah satu pionir berdirinya TNI AU. Pengalamannya menjadi perwira RAF di Perang Dunia II sangat berguna untuk membangun TNI AU.
Halim diserahi tugas sebagai perwira operasi. Dialah yang merancang serangan udara pertama TNI AU pada tangsi militer Belanda di Ambarawa, Magelang dan Semarang. Serangan tanggal 29 Juli 1947 dilakukan dengan pesawat tua peninggalan Jepang. Karena keterbatasan, bom bahkan hanya diikat dengan tali di sayap pesawat.

Serangan tersebut berhasil. Belanda dan dunia internasional terkejut angkatan udara Indonesia yang baru berumur hitungan bulan berhasil melakukan serangan udara.

Perwira senior TNI AU ini juga melakukan sejumlah penerbangan menembus blokade Belanda. Jasanya sangat besar dalam membawa senjata, amunisi dan obat-obatan selama perang kemerdekaan.

Halim Perdanakusuma juga yang melakukan penerbangan ke Maguwo (Yogyakarta) ke Tjililitan ( Jakarta). Penerbangan dilakukan untuk memompa semangat perjuangan rakyat dan menunjukkan eksistensi TNI AU.

Tanggal 14 Desember 1947, Halim Perdanakusuma dan Iswahjudi melakukan penerbangan dari Thailand ke Bukittinggi. Mereka terjebak badai hingga akhirnya pesawat Avro Anson itu jatuh di Selat Malaka. Halim baru empat bulan menikah saat kecelakaan maut itu mencabut nyawanya.

Tahun 1975 pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada Halim Perdanakusuma. Namanya diabadikan menjadi nama Lapangan Udara di Jakarta.
[ian]

Kamis, 25 Juni 2015

Kisah TNI AU mau bom pangkalan jet tempur Inggris di Singapura

  Reporter : Ramadhian Fadillah

B-26 Invader. ©repro buku Baret Jingga
Merdeka.com - Tahun 1965, Inggris membangun pangkalan utama di Singapura. Pangkalan Udara Militer Tengah Air Force Base menjadi markas jet tempur Inggris.

Saat itu hubungan Indonesia dan Malaysia sedang memburuk. Malaysia meminta bantuan Inggris, Australia dan Selandia Baru. Bantuan langsung datang. Pesawat jet, kapal perang, hingga pasukan elite mereka disiagakan di perbatasan dengan Indonesia.

TNI AU melihat Pangkalan Udara Inggris di Singapura sebagai ancaman. Komando Mandala Siaga (Kolaga) merancang rencana untuk mengebom pangkalan tersebut.

Panglima Komando Operasi Komodor Leo Watimena memimpin briefing di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

"Pangkalan Udara Militer Tengah Air Force Base dijaga dengan radar dan misil anti serangan udara. Bukan tugas mudah untuk menyerang dan menghancurkannya," kata Komodor Leo Watimena.

Dia melihat para komandan skadron di depannya. "Siapa di antara kalian yang siap berjibaku menghancurkan tengah ABF?" tanya Leo.

"Saya siap Panglima!" teriak seorang perwira senior.

Tantangan itu dijawab dengan gagah oleh Komandan Skadron I Pembom Taktis Kolonel (Oedara) Pedet Soedarman. Dia merasa perlu mengobarkan semangat anak buahnya dalam konfrontasi melawan Malaysia dan sekutunya.


Pedet Soedarman pilot berpengalaman. Dia kenyang pengalaman menerbangkan pesawat jenis B-25 Mitchel dan B-26 Invander dalam menumpas berbagai penumpasan pemberontakan yang terjadi di tanah air.

Maka saat merencanakan mengebom Tengah ABF, 2 pesawat itu juga yang akan digunakannya. Demikian dikisahkan Pedet Soedarman dalam buku Pengalaman Heroik Penerbang Bomber tahun 2003.

"Direncanakan 50 persen bom yang dijatuhkan dari pesawat itu akan mampu menghancurkan landasan sekaligus mencegah musuh melakukannya," kata Pedet.

Rencana dan persiapan terus dilakukan. Moril para anggota TNI AU tinggi untuk melaksanakan tugas itu.

Namun angin berubah cepat. Peristiwa G30S mengubah peta politik Indonesia. Presiden Soekarno jatuh dan penggantinya, Presiden Soeharto memutuskan untuk mengakhiri konflik dengan Malaysia.

Dalam waktu singkat pula TNI AU menderita akibat pemerintah Orde Baru memutus semua kerja sama dengan Rusia dan China. Pesawat-pesawat paling canggih milik TNI AU tak bisa terbang gara-gara kekurangan suku cadang. Berakhirlah era Macan Terbang Asia.

Misi mengebom pangkalan jet tempur itu tak pernah digelar

Minggu, 14 Juni 2015

Kisah lucu rombongan Presiden Soekarno disetop gara-gara cerutu Kuba

Reporter : Ramadhian Fadillah
Soekarno. ©Deppen/Cindy Adams
 Merdeka.com - Pejuang revolusioner Kuba Che Guevara lahir 14 Juni 1928. Che menggelorakan perlawanan negara Amerika Latin melawan imperialisme Amerika Serikat.

Che dan Presiden Soekarno ternyata sahabat dekat. Keduanya saling mengagumi dan mempunyai semangat yang sama untuk memajukan negara-negara dunia ketiga.

Kala itu, Fidel Castro dan Che Guevara baru memenangkan revolusi di Kuba. Pada Bulan Juni 1959, Castro mengutus Che melawat ke negara-negara Asia. Ada 14 negara yang dikunjungi Che, sebagian besar negara peserta Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955.

Tentu Indonesia sebagai tuan rumah konferensi Asia Afrika, mendapat lawatan khusus Che. Dia menemui Presiden Soekarno di Jakarta. Keduanya berdiskusi panjang lebar soal revolusi di masing-masing negara. Keduanya cocok karena sama-sama anti imperialis. Selain berdiskusi, Che juga menjalin kerjasama di bidang ekonomi antara Indonesia dan Kuba. Che juga sempat berwisata ke Candi Borobudur.

Dia yang terkesan dengan Soekarno kemudian mengundang Soekarno untuk ganti berkunjung ke Kuba.

Maka tahun 1960, Soekarno yang melawat ke Kuba. Pemimpin Kuba Fidel Castro langsung menyambutnya di Bandara Havana. Soekarno disambut meriah. Warga Kuba berdiri di sepanjang jalan membentangkan poster bertuliskan 'Viva President Soekarno'.

Soekarno banyak berdiskusi dengan Castro soal apa yang telah dilakukannya di Indonesia. Di tengah kepulan cerutu kuba yang legendaris, Soekarno memaparkan konsepnya soal Marhaenisme. Soekarno menjelaskan kemandirian di bidang ekonomi. Bagaimana rakyat bisa menjadi tuan di negerinya sendiri tanpa didikte imperialisme.

Fidel Castro yang juga anti-Amerika klop dengan Soekarno. Sejarah menunjukkan keduanya tidak pernah mau didikte Amerika Serikat.

Foto-foto Soekarno, Che dan Castro menunjukkan hubungan yang sangat dekat. Soekarno menghadiahi Castro keris, senjata asli Indonesia. Mereka tertawa seperti dua sahabat saat bertukar penutup kepala. Soekarno menukar kopiahnya dengan topi a la komandan militer yang menjadi ciri khas Castro. Che pun tampak senang mengenakan kopiah Soekarno.

Saat itu revolusi baru saja terjadi di Kuba. Castro dan Che baru menumbangkan rezim Batista dan mengambil alih kepemimpinan Kuba tahun 1959. Karena itu euforia revolusi terjadi di semua pelosok Kuba.

Yang unik, rombongan kepresidenan sempat berhenti hanya karena petugas polisi yang memimpin konvoi ingin mengisap cerutu.

Cerita itu dituturkan ajudan Soekarno, Bambang Widjanarko dalam buku 'Sewindu Dekat Bung Karno' terbitan Kepustakaan Populer Gramedia.

Saat itu dalam konvoi Soekarno ada tiga polisi yang memimpin iring-iringan kepresidenan sekaligus membuka jalan. Tiba-tiba polisi pemimpin konvoi menghentikan motornya dan menyuruh konvoi berhenti. Tentu saja semua peserta bertanya-tanya kenapa konvoi berhenti.

Polisi itu lalu mengeluarkan cerutu, dan menghampiri sopir Soekarno. Rupanya dia mau pinjam korek untuk menyalakan cerutu. Setelah menyala, polisi itu lalu memberi hormat pada Soekarno. Dia menaiki motornya dan memimpin konvoi kembali dengan gagah. Sambil menghisap cerutu kuba tentu saja.

"Bung Karno tertawa berderai melihat itu. Rupanya dia cukup paham Kuba masih dalam revolusi," ujar Bambang.

Lawatan ke Kuba sangat mengesankan untuk Soekarno. Sangat berbeda dengan lawatannya ke Washington beberapa waktu sebelumnya. Kala itu Soekarno tersinggung dengan Presiden Eisenhower yang sombong. Eisenhower menganggap remeh Soekarno yang dianggapnya datang dari negara dunia ketiga.

Sabtu, 06 Juni 2015

Peristiwa menegangkan saat pilot TNI AU mau bom Presiden Soekarno

Reporter : Ramadhian Fadillah |

Mig-17 AURI. ©2013 Merdeka.com
Merdeka.com - Presiden Soekarno berkali-kali menghadapi percobaan pembunuhan. Mulai dari digranat di Cikini, mau ditembak saat Salat Idul Adha hingga diserang di Makassar.

Namun serangan yang paling mengejutkan adalah peristiwa Maukar. Seorang pilot Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) pernah menerbangkan pesawat tempur Mig-17 dan mengebom Istana Presiden Soekarno.

9 Maret 1960. Tepat siang bolong Istana presiden dihentakkan oleh ledakan yang berasal dari tembakan kanon 23 mm pesawat Mig-17 yang dipiloti Daniel 'Tiger' Maukar. Maukar adalah Letnan AU yang telah dipengaruhi pemberontak Permesta. Nama 'Tiger' adalah call sign atau panggilan. Setiap penerbang tempur pasti punya nama panggilan.

Kanon yang dijatuhkan Daniel Maukar menghantam pilar dan salah satunya jatuh tak jauh dari meja kerja Soekarno. Untunglah Soekarno tak ada di situ. Soekarno tengah memimpin rapat di gedung sebelah Istana Presiden.

"Sebuah pesawat udara yang terbang rendah menjatuhkan bingkisan mautnya tepat di kursi biasa aku duduk. Rupanya Tuhan tengah menggerakan tangan-Nya untuk melindungiku," kenang Soekarno soal peristiwa itu dalam buku biografinya yang ditulis Cindy Adams.

Setelah menjalankan aksinya Maukar mendaratkan jet tempur itu di persawahan wilayah Garut. Rencananya dia akan dijemput oleh para pejuang Darul Islam pimpinan Kartosoewiryo. Namun Maukar keburu tertangkap pasukan TNI. Berakhirlah petualangan salah satu pilot muda jagoan AURI itu.

Maukar membantah mencoba membunuh Soekarno. Aksinya hanya sekadar peringatan. Sebelum menembak Istana Presiden, dia sudah memastikan tak melihat bendera kuning dikibarkan di Istana sebagai tanda presiden ada di Istana. Dia tahu Istana sedang kosong. Maukar sendiri mengaku sangat mengagumi Soekarno. Aksi itu dilakukan karena kekecewaan dan hasutan para pejuang Minahasa yang kala itu merasa diperlakukan tak adil.

Maukar dijatuhi hukuman mati dan dipecat dari AURI. Tapi belakangan Soekarno mengampuninya. Dia menjalani hukuman selama delapan tahun sebelum bebas dan akhirnya menghabiskan hidup sebagai pendeta.
[ian]

Kamis, 02 April 2015

Rahasia Soekarno memikat wanita cantik

Reporter : Ramadhian Fadillah

soekarno-istri. merdeka.com/istimewa
Merdeka.com - Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dikenal sebagai penakluk wanita. Menikah sembilan kali, dengan mudah wanita takluk padanya. Sebenarnya apa rahasia Soekarno? Mengapa wanita selalu terpikat padanya?
Mantan Ajudan Soekarno, Bambang Widjanarko menceritakan Soekarno memang jagoan soal wanita. Kharisma Soekarno ditambah intelektualitas yang tinggi, membuat wanita-wanita bertekuk lutut.

"BK (Bung Karno) benar-benar dapat disebut jagoan. Terhadap setiap wanita yang sedang dihadapinya, dia selalu dapat mencurahkan perhatiannya kepada wanita itu. Sehingga wanita tersebut merasa bahwa dia satu-satunya wanita yang paling dicintai atau dihargai BK," tulis Bambang Widjanarko dalam buku 'Sewindu Dekat Bung Karno' yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia.

Selain itu, Soekarno juga selalu bersikap gallant atau sopan dan hangat pada setiap wanita. Tak peduli wanita itu tua atau muda. Soekarno tak segan-segan mengambilkan minum sendiri untuk tamu wanitanya.

Soekarno juga selalu membantu memegang tangan wanita, jika wanita itu keluar mobil. Dia juga mengumbar pujian pada wanita. Hal ini yang selalu membuat para wanita tersanjung.

Pujian seperti "Alangkah serasinya kain kebaya yang anda pakai," atau "Nyonya kelihatan lebih muda dengan tatanan rambut baru itu," sering terdengar dari mulut Soekarno.

Maka dalam berbagai kunjungan di Eropa dan Amerika, Soekarno sering sekali mendapat pujian dari para wanita. Mulai dari politikus wanita, hingga artis sekelas Marilyn Monroe.

"Your President is real gentleman," ujar Bambang menirukan pujian para wanita itu.

Namun Bambang mencatat, akibat lagak seperti Arjuna itu pula Soekarno sering mendapat masalah dengan wanita. Tentunya tidak mudah mempunyai empat istri sekaligus dan semuanya minta menjadi nomor satu.

"Itulah BK sang arjuna yang dalam hidupnya terus terlibat persoalan wanita dan secara berani menerapkan politik 'vivere pericolozo' dalam soal asmara," kenang Bambang Widjanarko.
[bal]

Senin, 23 Februari 2015

Kisah Kolonel Gatot Soebroto panggil Soeharto 'monyet' saat perang

Reporter : Yulistyo Pratomo
gatot subroto dan soeharto. ©2015 Merdeka.com
 Merdeka.com - Siapa yang tak kenal dengan Jenderal Gatot Soebroto, sosok pahlawan pejuang kemerdekaan ini memiliki peran yang sangat berarti dalam perjuangannya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari serangan Belanda. Dia dikenal sebagai jenderal lapangan kesayangan TNI AD.

Gatot dikenal terbuka dan ceplas-ceplos. Ada kisah menarik bagaimana hubungan antara Gatot Soebroto dan Soeharto.

Saat itu keduanya terlibat pertempuran di Ambarawa, Jawa Tengah. Soeharto yang kala itu masih berpangkat Mayor diperintahkan untuk menemui atasannya, Gatot Soebroto. Namun, Gatot yang berpangkat Kolonel gemar memanggil anak buah dengan kalimat sesukanya.

"Hei monyet, mari ke puncak sini," teriak Gatot.

Panggilan 'monyet' ini merupakan kalimat legendaris yang selalu diingat seluruh anak buahnya. Sebutan itu selalu keluar jika keadaan hati Gatot sedang senang.

Kisah ini ditulis dalam buku 'TB Silalahi: Bercerita Tentang Pengalamannya' karya Atmadji Sumarkidjo terbitan Kata Hasta Pustaka terbitan 2008, Gatot dan Soeharto memiliki hubungan dekat.

Dalam pertemuan itu, Gatot memerintahkan Soeharto untuk menjaga puncak sebuah bukit di Ambarawa pada malam hari. Bukit ini dipandang sangat strategis bagi para pejuang karena bisa memantau pergerakan musuh, jika jatuh ke tangan Belanda maka akan berakibat buruk bagi TNI kala itu.

Setelah memberikan perintah, Gatot menyerahkan sepenuhnya keamanan di atas bukit kepada sosok yang akan menjadi presiden kedua RI ini. Namun, dia justru gemetar melihat bukit itu ternyata dibombardir secara bertubi-tubi dari Belanda. Suara ledakannya sangat membahana, bahkan Gatot sempat berpikir Soeharto dan anak buahnya pasti tewas dalam serangan itu.

Segera setelah serangan berhenti, Gatot bersama anak buahnya langsung menuju bukit tempat Soeharto serta pasukannya berada. Dia pun memerintahkan beberapa orang kepercayaannya mencari setiap jenazah. Gatot menangis membayangkan jenazah Soeharto ada di antara para korban.

Setibanya di puncak bukit, dia terkejut saat menyaksikan tak ada satu pun mayat yang berserakan. Bahkan, ia lebih terkejut lagi melihat Soeharto dan pasukannya berjalan tanpa terluka sedikit pun dari sisi lain bukit tersebut.

Bagi Gatot, Soeharto adalah salah satu anak buah kesayangannya, alhasil ketika melihat Soeharto keluar dari persembunyian tanpa terluka membuatnya terharu dan langsung memeluknya.

"Kamu masih hidup," ucapnya singkat sembari memeluk Soeharto.

Tak lama, dia pun bertanya bagaimana Soeharto berhasil selamat dari serangan tanpa terluka sedikit pun. Dan Soeharto pun bercerita, menjelang malam setelah mendapat perintah itu, dia berpikir bukit tersebut pasti akan mendapat serangan dari Belanda mengingat posisinya yang sangat strategis.

Soeharto menyadari jika tetap bertahan akan membahayakan nyawanya dan seluruh pasukan. Atas alasan itu, Soeharto mengajak anak buahnya bersembunyi di sisi lain bukit. Perkiraan pun tepat, serangan mortir dan bombardir terjadi malam itu juga.

Mendengar itu, Gatot gembira bukan kepalang. Dia pura-pura marah, tetapi hatinya sangat senang.

"Hei monyet, berarti kau melawan perintah. Saya perintahkan kamu tetap di sini tapi ternyata kau tinggalkan."

Meski marah perintahnya diabaikan, namun Gatot tetap bersyukur Soeharto dan seluruh pasukannya tetap selamat. Kelak, Gatot Soebroto diangkat jadi pahlawan nasional dan namanya menjadi nama jalan protokoler di semua ibu kota provinsi.

Kamis, 05 Februari 2015

Bang Pi'ie, jawara Pasar Senen jadi menteri (1)

Bang Pii (tengah). ©2015 Merdeka.com/Wordpress
Merdeka.com - Wajah dalam foto itu tak asing. Mukanya tampan dengan kumis tipis melekat. Namun banyak orang tak mengenal lelaki dalam foto itu. Dialah Imam Syafi'ie, kesohor dengan panggilan Bang Pi'ie. Era tahun 1960 an, Bang Pi'ie ditakuti oleh para bandit di sekitaran Jakarta.

Bang Pi'ie begitu dia hangat disapa merupakan salah satu pahlawan negeri ini. Dia bekas jawara Pasar Senen di Jakarta Pusat dan satu-satunya jagoan yang pernah mengisi Kabinet Pemerintahan di negeri ini. Jabatannya mentereng, Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet Dwikora bentukan Presiden Soekarno.

Perjalanan panjang Bang Pi'ie begitu berwarna. Sejak usianya 4 tahun, Bang Pi'ie sudah menjadi anak yatim. Anak ke dua dari empat bersaudara ini terpaksa harus dititipkan kepada bibinya, Zaenab pedagang makanan di Pasar Senen. Di usia itu Syafi'ie sudah berpikir bagaimana memberi makan ibunya dan dua adiknya, Muhammad Safrie dan Supenah.

Usia 5 tahun Pi'ie kecil membuat komplotan sesama anak seusianya. Dia mengkoordinir teman-temannya di Pasar Senen untuk mengambil sayur-sayuran maupun beras. Hasil itu yang kemudian dikirim kepada ibunya di Bangka, Jakarta Selatan.

"Ibaratnya kalau sekarang anak kolong. Jadi kalau ada bongkaran sayuran dia ambil sayuran. Kalau ada beras dia kumpulin beras," kata anak Bang Pi'ie, Edi Syafi'ie saat berbincang dengan merdeka.com kemarin di Hotel Milenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Edi merupakan anak dari istri ketiga Bang Pi'ie, Fitriyana.

Sebelum dititipkan kepada bibinya, Syafi'ie telah diminta kerabat ayahnya, Habib Qodir Al-Hadad, seorang ulama asal Pasar Sawo, Kebon Nanas, Jakarta Timur. Permintaan itu memang diamanatkan oleh mendiang ayahnya, Mugeni sebelum pergi menghadap sang khalik. Mugeni meninggal setelah ditebas golok dari belakang oleh adik seperguruannya bernama Ayub.
Tujuan menghabisi Mugeni, kata dia, buat menguasai Pasar Senen. "Kakek saya dulu jawara di Pasar Senen, dia asli Marunda," ujar Edi.

Di usia tujuh tahun, Syafi'ie kecil mulai belajar ilmu beladiri. Habib Qodir, ayah angkatnya mempunyai tujuan biar Bang Pi'ie jadi jawara. Ada 32 guru mengajarkan Syafi'ie ilmu beladiri. Dari tiga saudara kandung laki, hanya Syafi'ie yang dibawa Habib Qodir untuk berguru. Alasannya, Syafi'ie memiliki kekuatan buat menerima berbagai ilmu. Dari 32 guru, salah satunya Haji Darif, pahlawan asal Klender, Jakarta Timur.
"Guru-gurunya secara bergantian mengajarkannya," tutur Edi.

Hingga akhirnya, Syafi'ie kecil harus mendekam dibalik jeruji besi penjara anak di Tangerang. Ada kisah menarik saat dia dijebloskan ke dalam penjara. Meski usianya baru 11 tahun, Bang Pi'ie sudah menjadi jawara di lapas itu. Bang Pi'ie hanya cukup waktu semenit melumpuhkan jawara dalam lapas anak Tangerang.

Ceritanya begini, waktu baru masuk, Bang Pi'ie di pecundangi, dia dipukul oleh anak berdarah Ambon, penguasa Lapas Tangerang. Bang Pi'ie menangkis pukulan, dia lantas mengalahkan jawara lapas itu seorang diri. Sejak saat itu, namanya makin kesohor. Apalagi, bang Pi'ie ditangkap lantaran dia dituding mengorganisir para preman di Pasar Senen.

"Dia ditangkap dan dibawa ke LOG. Hanya setahun dia mendekam," katanya. Perjalanan Bang Pi'ie memang banyak dihabiskan di Pasar Senen. Namun namanya tetap kesohor di kalangan anak muda sekitar Jakarta. Usia 16 tahun usai kembali berguru, Bang Pi'ie mulai mengorganisir teman-temannya di Pasar Senen dan pada usia 19 tahun, Syafi'ie mulai kesohor sebagai Jawara setelah mengalahkan pimpinan preman bernama Muhayar asal Cibedug, Bogor, Jawa Barat. Muhayar merupakan pengganti, Ayub, teman seperguruan mendiang ayahnya.

"Dia mengalahkan Muhayar. Muhayar ini pengganti Ayub yang membunuh kakek saya," ujar Edi.

Tersohornya nama Bang Pi'ie membuat dia disegani hingga berbagai pelosok di luar Jakarta. Masuknya Jepang pada tahun 1943 membuat nama Bang Pi'ie ditunjuk sebagai pimpinan laskar bambu runcing. Isinya para jawara dari Jakarta, Depok, Tangerang hingga Bekasi. Laskar ini ikut berjuang saat detik-detik sebelum kemerdekaan.

Haji Darif dari Klender pernah berkongsi dengan Bang Pi'ie sebelum kemerdekaan. Dia bersama laskarnya ikut berjuang ketika memerdekakan negeri ini dari para penjajah. "Dulu pimpinan laskar itu Pak Syafi'ie. Bapak dulu di bawah komando dia," kata Uung, anak dari Haji Darif saat berbincang dengan merdeka.com beberapa waktu lalu.

Sebagai orang dekat dengan Soekarno, setelah kemerdekaan, Bang Pi'ie diangkat menjadi Menteri Keamanan Rakyat. Dia dinilai mampu mengkoordinir para bandit untuk tidak berbuat onar. Maklum, setelah proklamasi kemerdekaan, situasi keamanan makin tidak terkendali lantaran banyak terjadi perampokan.

Anak bekas Sekondan Menteri Keamanan Rakyat di bawah bang Pi'ie, Mat Depok menuturkan jika ayahnya memang dipercaya untuk membantu Bang Pi'ie mengendalikan para bandit. Bahkan dia pernah ikut mengalami perjuangan bersama Bang Pi'ie saat pertempuran dengan tentara Belanda di Bekasi, Jawa Barat. "Iya ayah saya pernah menjadi sekondan menteri Pak Syafi'ie," ujar Kong Nisan, anak Mat Depok saat ditemui di kediamannya, Tanah Baru, Depok, Jawa Barat pertengahan tahun lalu.
Soekarno berkuasa, Bang Pi'ie diangkat menjadi Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet 100 hari Menteri bentukan Presiden Soekarno

Selasa, 03 Februari 2015

Masjid Al Mujahidin Bekasi, Basis Perjuangan Pahlawan Nasional

Reporter : Baiquni 
Masjid Al Mujahidin Cibarusah, Saksi Bisu Perlawanan Pada Penjajah (gunrakyatbekasi.wordpress.com)

 Masjid Al Mujahidin Cibarusah, Bekasi ini dulunya menjadi markas komando dan kamp pelatihan semi militer anggota Laskan Hizbullah melawan penjajah Jepang.

 Dream - Masjid lazimnya sebagai tempat ibadah bagi kaum Muslim. Namun, pada zaman penjajahan dulu, masjid tak jarang digunakan sebagai basis perjuangan.

Dan salah satu tempat ibadah kaum Muslim yang menjadi basis perjuangan bangsa itu adalah Masjid Al-Mujahidin yang terletak di Kampung Babakan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Masjid ini pernah menjadi markas komando Laskar Hizbullah melawan Belanda dan Jepang.
Laskar Hizbullah merupakan satuan pejuang bentukan para aktivis Islam yang tergabung dalam Partai Masyumi pada tahun 1944. Kesatuan ini dibentuk untuk mengimbangi tentara Pejuang Tanah Air (PETA) bentukan Jepang. Laskar ini beranggotakan pemuda Muslim yang dilatih dengan pelatihan semi militer.
Para pemuda Muslim yang tergabung dalam kesatuan ini digembleng di Masjid Al-Mujahidin ini. Lingkungan sekitar yang saat itu masih berupa hutan dan tidak jauh dari pusat kekuasaan Jepang menjadikan masjid ini sebagai tempat strategis untuk melatih pasukan.
Kamp pelatihan ini melahirkan beberapa nama pahlawan nasional. Salah satunya adalah KH Zainul Arifin, yang mampu menggelorakan semangat perjuangan di kalangan anak muda terutama santri. Mereka kemudian menjadi garda terdepan dalam perlawanan mengusir penjajah.
Setelah menjalani pelatihan, para anggota laskar diperintahkan untuk menyebar ke seluruh penjuru negeri. Mereka berada di bawah komando KH Zainul Arifin selaku Komandan Tertinggi. Dalam menjalankan komandonya, ia dibantu oleh Abdul Mukti, Ahmad Fathoni, Muhammad Syahid, Amir Fattah, Prawoto Mangkusasmito, dan KH Mukhtar.
Saat ini, Masjid Al Mujahidin Cibarusah masih tetap digunakan sebagai tempat salat. Selain itu, masjid ini juga menjadi basis masyarakat untuk berkegiatan dalam bidang agama. (Dari berbagai sumber)

Minggu, 25 Januari 2015

Waspadai Bahaya Laten PKI Gaya Baru

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Bahaya laten Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi perhatian Direktur CICS, Arukat DJ. Menurut dia, kendati tidak lagi mengedepankan aksi dengan angkat senjata, namun PKI kini sudah bermetamorfosa kemana-mana.
Kader Partai Komunis Indonesia (PKI)
"Kita bisa melihat, dimana-mana ada konflik di situ juga ada bekas tokoh-tokoh PKI," kata Arukat di Denpasar, Bali, Ahad (25/1).
Hal itu dikemukakan Arukat dalam ceramahnya pada kegiatan Reuni Akbar Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PKB PII). Kegiatan yang dihadiri para aktivis Angkatan 66 dan aktifis PII dari beberapa generasi itu mengambil tema "Revitalisasi Peran KB PII Dalam Menghadapi Indonesia Baru."
Dalam ceramahnya, Arukat mengatakan, PKI dengan faham komunismenya bisa ada di mana-mana. Selain ada yag terang-terangan membanggakan partai komunis itu, ada juga yang melakukan gerakan secara tersamar atau penyusupan-penyusupan.
Komunis gaya baru, kata Arukat, telah banyak mengalami perubahan dari bentuk dan ideologi aslinya. Dulu, orang-orang PKI selalu menyuarakan kepentingan rakyat tertindas dan tidur di rumah-rumah gubuk, namun sekarang mereka sudah berdasi, rapat dan tidur di hotel-hotel mewah.
"Namun yang diperjuangkannya di Indonesia tetap, salah satunya yakni bagaimana menguasai pemerintahan," katanya.
Arukat juga menyoroti pemberontakan yang dilakukan PKI pada 1948 dan 1965 yang menimbulkan banyak korban. Karena itu, terkait desakan agar pemerintah membuat permohonan maaf atas peristiwa G30S PKI 1965, Arukat menyatakan akan menentangnya habis-habisan. "Kami dari Jawa Timur yang paling pertama menentang jika pemerintah berencana mengajukan permohonan maaf," kata Arukat.
Pembicara lainnya, H Ahmad Hasan Ali BA mengemukakan hal senada. Menurut Hasan Ali, kader-kader PKI bisa menyusup kemana-mana, bahkan ke lembaga-lembaga berazaskan Islam. "Karenanya harus diwaspadai hingga di lingkungan terkecil, jangan sampai ummat Islam terprovokasi oleh orang yang ternyata penyusup," katanya

Sabtu, 17 Januari 2015

Akhir perjalanan Kusni Kasdut, si penjahat legendaris

Reporter : Mohamad Taufik


Kusni kasdut. wordpress.com
 Merdeka.com - Kisah petualangan penjahat legendaris Kusni Kasdut sudah banyak ditulis dalam berbagai artikel. Penjahat yang juga mantan pejuang melawan penjajah Belanda pada masa revolusi 1945 itu terlibat beberapa kali perampokan dan pembunuhan di negeri ini, salah satunya merampok Museum Nasional dan membunuh satu petugas pada 31 Mei 1961.

Kusni Kasdut bernama asli Waluyo. Dia lahir sebagai pemuda miskin, anak seorang petani miskin di Blitar, Jawa Timur. Di masa revolusi kemerdekaan dia tergabung tak resmi sebagai laskar rakyat yang bahu membahu bersama TNI melawan penjajah Belanda.

Ketika revolusi berakhir, Kusni Kasdut justru dibuat bingung. Kekacauan membuatnya bisa beristrikan seorang gadis Indonesia dari keluarga menengah, Sri Sumarah Rahayu Edhiningsih. Seorang istri yang ia cintai, ia banggakan, dan karena itu melahirkan tekad untuk menyenangkannya dengan kehidupan layak. Sementara sejak lahir, Kusni senantiasa bergelut dengan kemiskinan.
Kusni terus mencari pekerjaan. Namun, entah karena dia berharap terlalu tinggi, atau apa, yang ia terima tak lain serangkaian kegagalan. Berbekal pengalaman semasa revolusi 1945, ia pun mencoba mendaftar masuk TNI. Sayang, ia kembali ditolak.
 Penyebab penolakan Kusni masuh TNI karena selain karena tak pernah terdaftar dalam kesatuan pejuang, ia pun cacat fisik. Kaki kirinya sedikit timpang terserempet tembakan yang dia peroleh semasa perang. Kusni Kasdut menjadi orang terbuang meski bisa dibilang dia merupakan pejuang kemerdekaan.

Kusni Kasdut kemudian berteman dengan Bir Ali. Ali seorang laki-laki asal Cikini kecil (sekarang wilayah sekitar Hotel Sofyan), mantan suami penyanyi Ellya Khadam. Nama lengkapnya Muhammad Ali, dijuluki Bir Ali karena kesukaannya menenggak bir sebelum melakukan aksi. Kelak, Muhammad Ali menjalani hukuman mati pada 16 Februari 1980 karena membunuh Ali Badjened, seorang Arab kaya raya, saat merampok rumahnya.

Saat Kusni masuk, geng itu sudah beranggotakan Ali, Usman, Mulyadi dan Abu Bakar. Ketiganya memberikan posisi pemimpin karena melihat bakat memimpin yang Kusni Kasdut miliki. Pelan tapi pasti, satu persatu kejahatan membuat Kusni ketagihan.

Pengalaman tertangkap Belanda semasa revolusi membuat Kusni memandang penjara sebagai lembaga tempat penyiksaan. Karena itu, untuk menghindari penangkapan yang berujung penjara, dia rela membunuh korbannya bila dirasa terpaksa. Kusni, kemudian seolah monster haus darah dalam setiap aksinya.

Berbekal sepucuk pistol, tahun 1960-an, Kusni bersama Bir Ali merampok dan membunuh seorang Arab kaya raya bernama Ali Badjened. Ali Badjened dirampok sore hari ketika baru saja keluar dari kediamannya di kawasan Awab Alhajiri, Kebon Sirih. Dia meninggal saat itu juga akibat peluru yang ditembakkan Ali dari atas jeep. Perampokan pada masa itu sangat menggegerkan.
 Berselang satu tahun, pada 31 Mei 1961, Jakarta kembali gempar. Tak lain karena Museum Nasional Jakarta (Gedung Gajah) dirampok gerombolan Kusni Kasdut. Ibarat film, Kusni yang menggunakan jeep dan mengenakan seragam polisi, menyandera pengunjung dan menembak mati seorang petugas museum. Dalam aksi nekat itu ia membawa lari 11 butir permata koleksi museum. Segera Kusni Kasdut jadi buronan terkenal.

Sekian tahun buron, Kusni Kasdut tertangkap ketika mencoba menggadaikan permata hasil rampokannya di Semarang. Petugas pegadaian curiga karena ukurannya yang tidak lazim. Akhirnya dia ditangkap, dijebloskan ke penjara dan divonis mati atas rangkaian kejahatannya. Kusni Kasdut akhirnya dieksekusi mati pada 16 Februari 1980 di sebuah daerah di Gresik, Jawa Timur.

Di hari-hari terakhir hidupnya, Kusni bertaubat dan menyesali kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan. Itu karena perkenalannya di penjara dengan seorang pemuka agama Katolik. Ia pun memutuskan menjadi pengikut setia, dan dibaptis dengan nama Ignatius Kusni Kasdut.
Sebelum dieksekusi mati, beberapa hal yang diminta Kusni dipenuhi. Dia menikmati sembilan jam terakhirnya di ruang kebaktian Katolik LP Kalisosok, dikelilingi anggota keluarganya: Sunarti (istri keduanya), Ninik dan Bambang (anak dari istri pertama), Edi (menantu, suami Ninik) dan dua cucunya, anak Ninik. Kusni juga menikmati jamuan makan terakhir dengan lauk capcai, mie dan ayam goreng.
Pada masanya, Kusni adalah penjahat spesialis barang antik. Kisahnya sebagai sosok penjahat berdarah dingin ternyata tidak hanya dikenang oleh para korban atau keluarga korban. Ia juga sempat dijuluki 'Robin Hood Indonesia', karena ternyata hasil rampokannya sering di bagi-bagikan kepada kaum miskin.

Jumat, 12 Desember 2014

Kisah lucu Sultan Yogya dimarahi & ditodong TNI penjaga istana

Reporter : Ramadhian Fadillah
Merdeka.com - Sri Sultan Hamengkubuwono X memilih mengalah saat rombongan Presiden Jokowi melintas. Dia ikut menepi saat voorijder pengawal Jokowi memerintahkan rakyat memberikan jalan untuk rombongan pejabat.

Aksi Sultan X ini mengingatkan apa yang dilakukan oleh ayahnya, Sultan Hamengkubuwono IX. Sang Raja Jawa ini memang dikenal egaliter. Tak mau disanjung berlebihan, tapi justru karena itu Sultan Yogya sangat dihormati dan dicintai oleh rakyat dan seluruh penduduk Indonesia.

Ada kisah menarik soal Sultan HB IX. Lagi-lagi gara-gara Sultan tak mau pakai pengawal dan pakai mobil biasa saat blusukan.

Pada Bulan Oktober 1950, Sultan HB IX menjabat wakil perdana menteri di Kabinet Natsir. Bersama A Halim yang menjabat Menteri Pertahanan ad interim, mereka menuju Istana Bogor untuk meninjau proses renovasi.

Kisah ini dituliskan AR Baswedan dalam buku Tahta Untuk Rakyat yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta tahun 2011.

Halim menyopir sendiri mobil itu, bergantian dengan Sultan. Tak ada pengawal atau ajudan yang menyertai mereka.

Saat tiba di Istana Bogor, penjaga di pos depan istana tak memperhatikan mobil yang masuk. Sultan dan Halim pun segera masuk Istana tanpa melapor.

Tiba-tiba beberapa orang penjaga dari Polisi Militer segera sadar. Mereka bergegas mengejar mobil itu. Mobil Sultan dihentikan dengan todongan senjata.

"Hei, apa-apaan ini! Stop segera!" teriak para penjaga Istana.

Komandan Polisi Militer itu menghampiri Halim. Dia membentak menteri pertahanan itu dengan mata melotot.

"Kenapa masuk saja tanpa berhenti lebih dulu? Apa tidak lihat penjagaan?" bentaknya.

Halim mengeles. "Saya hanya sopir, dan karena tidak ada orang yang menyuruh berhenti saya terus saja. Lagipula Tuan yang berada di sebelah saya ini tidak menyuruh saya berhenti," kata Halim sambil melirik Sultan.

Sultan diam saja. Para prajurit itu semua mengerubungi mobil tersebut, mencoba mengenali siapa orang di samping sopir tersebut. Tiba-tiba mereka tersadar.

"Apakah Bapak bukan Sri Sultan?" tanya pemimpin mereka.

Sultan mengangguk. Para tentara itu langsung terperanjat. Siapa yang tidak gentar mengingat Sultan HB IX dan perjuangannya mempertahankan Yogyakarta selama agresi militer Belanda.

"Siaaap! Beri Hormaaat!" teriak sang komandan sigap. Perintah ini lalu spontan diikuti seluruh anak buahnya.

Sultan tak marah dengan penodongan dan bentakan para penjaga itu. Dia segera melakukan peninjauan. Bahkan sempat makan duku di pinggir kali Ciliwung yang membelah Istana.

"Ketika dua jam kemudian kami meninggalkan istana untuk pulang, di pintu gerbang telah siap satu kompi untuk memberi hormat pada mobil kami," kenang Halim

Sabtu, 22 November 2014

Kisah heroik Jenderal Jasin maju hentikan perang Brimob vs TNI

Jenderal Moehammad Jasin. ©buku Gramedia Pustaka Utama/Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang
MERDEKA.COM. Pertengkaran antara TNI dan Brimob rupanya sudah sejak lama, dan bukan cuma di Batam saja. Di tahun 1950an kisah serupa sudah terjadi di tempat lain.

Saat itu Brimob masih bernama Mobiele Brigade. Di Maluku, ada dua kompi yang bermarkas di Ambon dan Tantui, yang berjarak 8 km dari Ambon. Lokasinya asrama Tantui berada di perbukitan. Sementara komandannya bernama Lesnusa. Satu kompi berkekuatan sekitar 100 orang.

Dua kompi itu kebanyakan pemuda Maluku. Mereka direkrut kepolisian untuk menghindarkan para pemuda Ambon dari ajakan Republik Maluku Selatan (RMS) untuk memberontak.

Suatu hari, seorang anggota Mobiele Brigade berkelahi dengan tentara. Penyebabnya sepele, cuma gara-gara rebutan pacar. Akhirnya si anggota MB ditahan oleh Corps Polisi Militer (CPM).

Lesnusa segera memerintahkan wakilnya, Soedirman ke tempat CPM untuk meminta penjelasan. Namun malah Soedirman ikut ditahan tanpa alasan yang jelas.
Kisah ini ditulis dalam Buku Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang: Meluruskan Sejarah Kepolisian Indonesia yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, Jakarta tahun 2010.

Amarah para anggota Mobiele Brigade memuncak. Mereka naik empat truk dengan senjata lengkap dan menyerang markas CPM. Pasukan polisi militer dilucuti, para tahanan dilepaskan dari sel. Mereka bergerak tanpa seizin Lesnusa.

Komandan Militer Maluku Kolonel Soekawati berang atas tindakan ini. Dia mengambil langkah keras dan mengultimatum pasukan Mobiele Brigade menyerahkan diri. Jika ultimatum tak dipenuhi, markas Tantui akan diserbu.
{content-split}

Namun ultimatum diabaikan pasukan Mobiele Brigade. Pihak tentara bukannya menyerang, tapi malah mengulang ultimatum sampai empat kali. Rupanya Kolonel Soekawati sadar kemampuan pasukan Mobiele Brigade ini sangat tangguh. Dia ingat waktu Mobiele Brigade ribut dengan marinir, malah marinir yang disergap dan dilucuti lebih dahulu.

Kolonel Soekawati sampai meminta bantuan Angkatan Udara dan Angkatan Laut untuk ikut menyerang Tantui. Sementara Kompi Mobiele Brigade tetap teguh pendirian dan berada dalam posisi siaga.

Saat itu situasi Kota Ambon tegang. Gubernur dan Kepala Polisi Maluku tak mampu mengatasi situasi ini. Maka khusus dipanggilah Panglima Korps Mobiele Brigade Indonesia Kombes M Jasin ke Ambon.

Siapa yang tidak kenal M Jasin saat itu? Dia dan pasukan Polisi Istimewa berjasa besar saat pertempuran 10 November 1945. Jasin juga yang berani menangkap Mayor Sabaruddin, yang sangat ditakuti di Jawa Timur.

Bahkan Kolonel Soekawati juga rupanya hutang nyawa karena pernah diselamatkan Jasin di Madiun. Karena itu begitu Jasin datang ke Maluku, Soekawati langsung memberikan kesempatan padanya untuk menyelesaikan masalah Mobiele Brigade di Tantui.

Dari pihak militer M Jasin menerima informasi Kompi Tantui sudah liar dan tak akan mendengarkan perintah dari Panglima Mobiele Brigade. Namun Jasin yakin, apapun risikonya, masalah ini bisa diselesaikan.

Jasin berangkat ke Tantui, hanya berdua dengan ajudan. Di bawah bukit dia melihat tentara siaga mengarahkan mortir dan senapan mesin ke arah Tantui.
{content-split}

Sempat terbersit rasa khawatir dalam diri Jasin. Bisa saja dia disangka musuh dan malah ditembak oleh pasukannya sendiri. Namun Jasin bukan pengecut. Di dekat pertahanan Mobiele Brigade dia berteriak.

"Lesnusa! Keluar!" teriaknya.

Yang keluar bukan Lesnusa, tapi tiga anggota Mobiele Brigade berwajah seram dengan bayonet teracung membentak M Jasin.


Untungnya Lesnusa keluar. Dia langsung sigap memberi hormat. Melihat itu, anak buahnya spontan ikut memberi hormat. Jasin pun memanfaatkan momen tersebut.

"Apa Lesnusa masih taat kepada saya?" tanya Jasin.

"Taat, Pak!" jawab Lesnusa.

Jasin memerintahkan Lesnusa segera membariskan pasukan kompinya. Mereka tampak beringas dengan ikat kepala merah.

"Ini panglima kita dari Jakarta. Hormaaat Grak!" kata Lesnusa.

Jasin langsung memberikan wejangannya. "Anak-anakku yang gagah berani. Saya Panglimamu, merasa bangga akan sikap kalian yang pantang menyerah karena kalian setia pada RI. Panglimamu tidak sedikit pun percaya terhadap tuduhan bahwa kalian adalah RMS!"


"Itulah semangat Pattimura. Apakah kalian taat pada Panglimamu?" kata Jasin.

"Siap. Taat!" balas mereka.

Jasin berhasil menguasai mereka. Dia juga menemui keluarga para anggota Mobiele Brigade. Semua lega masalah ini selesai.

Jasin sadar psikologis pasukan Mobiele Brigade dari Maluku. Jika mereka dimarahi dan dikasari malah akan melawan. Mereka harus diberi wejangan, dengan pujian sehingga sadar.

"Kolonel Soekawati sangat gembira atas keberhasilan menyelesaikan masalah. Dia mengucapkan terima kasih sekaligus meminta maaf memanggil saya khusus dari Jakarta jauh-jauh," kata Jasin.

Jasin kemudian memerintahkan 2 kompi pasukan Mobiele Brigade di Maluku dikirim ke Jakarta untuk dilatih kembali. Penggantinya didatangkan dari Jawa sebanyak 2 kompi.

Jasin kelak dikenal sebagai Bapak Brimob Indonesia. Pangkat terakhirnya Komisaris Jenderal.

Kamis, 28 Agustus 2014

Jimat Penguat

HISTORIA.CO.ID - Para pemberontak Banten yakin dengan jimat dapat memenangi perang.
PADA 29 September 1887, para pemberontak berkumpul di rumah pimpinan mereka, Haji Wasid, untuk membahas pengumpulkan senjata. Namun para kiai berpendapat sebaiknya tak usah mencari senjata api. Alasannya, mayoritas pemberontak belum bisa menggunakannya. Untuk mendatangkannya dari luar Banten juga sulit. Mereka bisa mengandalkan kelewang dan yakin akan memenangi perang suci melawan Belanda dan antek-anteknya. 
http://www.historia.co.id/
Selama tiga bulan terakhir tahun 1887 hingga pertengahan tahun 1888, para pemberontak mempersiapkan diri dengan kegiatan pencak silat, pengumpulan dan pembuatan senjata, dan propaganda ke luar Banten. “Kegiatan lain terus dilakukan, seperti membakar semangat dengan khotbah-khotbah tentang ramalan-ramalan dan ajaran tentang Perang Sabil dan mendorong mereka untuk memakai jimat dan ikut dalam pertemuan-pertemuan keagamaan,” tulis Sartono Kartodirdjo dalam Pemberontakan Petani Banten 1888.
Dalam lampiran laporan Kontrolir Serang tanggal 19 Mei 1889 No 16, Snouck Hurgronje menerjemahkan jimat Arab yang digunakan para pemberontak Banten itu. Menurutnya, sebagaimana dikutip E. Gobée dan C. Adriaansee dalam Nasihat-nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936, jimat itu bertuliskan: “Inilah penyelamat yang diberkahi. Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ya Allah, ya Yang Hidup, ya Yang Berdiri Sendiri, Engkaulah kujadikan kekuatanku. Maka lindungilah aku dengan perlindungan selengkap-lengkapnya penjagaan...”
Di dalam jimat juga terdapat gambaran berkekuatan mistik, berupa sebuah lingkaran yang dikelilingi nama empat malaikat tertinggi dan nama-nama Allah; Muhammad; (empat khalifah) Abu Bakar, Umar, Usman, Ali; (putra-putra Ali) Hasan, Husain; (dua sahabat Nabi Muhammad) Sa’ad dan Sa’id; sementara di tengahnya terdapat surat Thaha ayat 39. Ada pula gambar pedang Ali bermata dua. Termaktub di situ: “Tidak ada orang [pahlawan] selain Ali, dan tidak ada pedang selain Du’l-faqar (maksudnya Zul faqar).”
Menurut Seyyed Hossein Nasr, ungkapan “tidak ada orang (pahlawan) selain ‘Alî, dan tidak ada pedang selain Du’l-faqar (maksudnya Zul faqar)” atau “la fata illa ali, la saifa illa dzu al-fiqar, (dzu al-fiqar adalah pedang bermata dua terkenal milik Ali)”, secara tradisional dinisbahkan kepada Malaikat Jibril, yang dia sampaikan kepada Nabi.
“Pribadi Ali yang bijak sekaligus ksatria, perenung sekaligus pelindung, sepanjang abad senantiasa mendominasi seluruh horizon futuwwah atau Keksatriaan Spiritual,” tulis Hossein Nasr, “Kekesatriaan Spiritual”, termuat dalam Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam: Manifestasi. Tentu saja, futuwwah yang diinginkan para pemberontakan Banten dari jimat itu adalah “keksatriaan fisik”.
Hurgronje juga menulis, “Selebihnya... jimat ini hanya memuat doa-doa pengampunan dosa dan rahmatan ‘ind al-maut (rahmat dalam kematian).”
Naskah tersebut, lanjut Hurgronje, pasti dibuat dengan pertimbangan gerakan di Banten dan dapat dipakai sebagai jimat untuk Perang Sabil.
Jimat itu, tulis Martin van Bruinessen, diperoleh dari Mekah karena Mekah dianggap sebagai pusat kosmis utama dan sumber ngelmu atau kesaktian. Dalam kosmologi Jawa, seperti halnya kosmologi Asia Tenggara lainnya, pusat-pusat kosmis, titik temu antara dunia fana dan alam supranatural, memainkan peranan sentral. Kuburan para leluhur, gunung, gua dan hutan tertentu serta tempat angker lainnya bukan hanya diziarahi sebagai ibadah tapi juga dikunjungi untuk mencari ilmu (ngelmu) alias kesaktian dan legitimasi politik (wahyu –istilah yang dipinjam kerajaan Mataram dari Islam dengan mengubah artinya).
“Setelah orang Jawa mulai masuk Islam, Mekah-lah yang dianggap sebagai pusat kosmis utama. Karena Mekah merupakan kiblat bagi seluruh umat Islam dan tempat wahyu turun kepada Nabi, sehingga Mekah menjadi pusat keilmuan Islam,” tulis Van Bruinessen dalam “Mencari Ilmu dan Pahala di Tanah Suci: Orang Nusantara Naik Haji,” dimuat di Ulumul Qur’an, 1990.
Menurut Sartono, pemimpin-pemimpin pemberontak dan pengikutnya yang disilaukan oleh keyakinan tak dapat dikalahkan –salah satunya karena jimat– dalam Perang Sabil, tak menyadari bahwa organisasi dan strategi militer yang lebih efektif dari Belanda membawa mereka kepada bencana.  
Satu batalyon tentara dari Batavia memukul-mundur dan akhirnya melumpuhkan para pemberontak. Para pemimpinnya, termasuk Haji Wasid, tewas.
Pada akhirnya, tradisi jimat (ngelmu) lestari hingga kini dan menjadi sumber kekuatan jawara-jawara Banten. Baik “jawara putih” yang memperoleh kesaktiaan dari sumber-sumber agama Islam maupun “jawara hitam” dari tradisi pra-Islam, jangjawokan atau elmu Rawayan. “Meskipun demikian, kenyataannya sulit dibedakan secara tegas antara jawara putih dan jawara hitam karena umumnya mereka menggunakan kedua sumber tersebut. Sehingga dijumpai praktik-praktik magis yang diawali dengan pembacaan syahadat atau ayat-ayat Alquran kemudian disambung dengan membaca sejenis jangjawokan,” tulis Agus Fahri Husein dalam Tasbih dan Golok.
(Historia - Hendri F. Isnaeni)

Jumat, 15 Agustus 2014

Menculik Soekarno dan Hatta

Hasan Kurniawan
SINDONEWS.COM
SEHARI menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pada Jumat 17 Agustus 1945, kini diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, terjadi penculikan terhadap Soekarno-Hatta, dan sejumlah tokoh lainnya, di Jakarta, dan Karawang.
Rumah yang dijadikan tempat penculikan Soekarno dan Hatta (dok:facebook/Hoesein Rushdy)


Peristiwa penculikan tokoh nasionalis dan sosialis demokrat itu, dikenal dengan Peristiwa Rengasdengklok. Para penculiknya terdiri dari beberapa kelompok pemuda pejuang yang masing-masing kelompok mewakili berbagai aliran politik, mulai dari nasionalis, komunis, dan sosialis demokrat. Para pemuda ini dikenal juga Golongan Muda.

Menurut kesaksian perintis kemerdekaan Mr Iwa Kusuma Sumantri, dalam otobiografinya Sang Pejuang Dalam Gejolak Sejarah, penculikan terhadap Soekarno-Hatta, dilakukan Kamis 16 Agustus 1945 pagi.

"Esok harinya, gemparlah Jakarta. Kalangan tentara Jepang marah bukan main. Bung Karno dan Istrinya Fatmawati, serta bayi mereka Osamu Guntur, telah lenyap. Demikian juga Bung Hatta. Sutarjo Karyohadikusumah, Gubernur Jakarta hilang. Dia diculik puteranya sendiri, Setyadi. Sedangkan Bupati Kerawang Pandu Suriadiningrat yang secara kebetulan sedang mengadakan inspeksi di Rengasdengklok, juga ditawan oleh para pemuda," tulis Mr Iwa, di halaman 166.

Penculikan terhadap sejumlah tokoh ini, ada juga yang menyebut peristiwa pengamanan para pemimpin nasionalis dan sosialis demokrat, terhadap rencana besar Golongan Pemuda dalam menyatakan kemerdekaan Indonesia, setelah Jepang kalah perang. 

Penting disebutkan dalam Cerita Pagi ini, beberapa kelompok pemuda pejuang yang terlibat dalam penculikan. Pertama kelompok Tan Malaka dari Partai Republik Indonesia (Pari) yang dipimpin Sukarni, Pandu Kartawiguna, Maruto Nitimiharjo, dan lainnya.

Kelompok pemuda kedua dipimpin Sutan Syahrir, diwakili oleh Johan Syahrasyah, Kusnaini, Ismunanto, dan lainnya. Kelompok ketiga dari Asrama Indonesia Merdeka, dipimpin oleh Chaerul Saleh, Adam Malik, Johan Nur, Darwis, RA Ratulangi, dan lainnya.

Selain ketiga kelompok yang telah disebutkan, kelompok pemuda lain yang juga terlibat dalam peristiwa itu, berasal dari Partai Nasionalis Indonesia (PNI), dan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang di antaranya Sudiro (Embah), Wikana, E Chaeruddin, Joyopranoto, dan lainnya.

Selain beberapa nama itu, nama lain yang penting disebutkan dalam peristiwa penculikan Soekarno-Hatta adalah seorang perintis kemerdekaan Mr A Subarjo, dan seorang tentara Jepang yang bersimpati terhadap kemerdekaan Indonesia, yaitu Laksamana T Maeda. Tanpa peran kedua orang ini, jalannya Republik Indonesia mungkin bisa berlainan dari sekarang.

Subarjo yang dikenal dekat dengan Jepang, seperti juga Soekarno, merupakan orang yang berhasil membujuk para pemuda untuk membebaskan Soekarno-Hatta, dari Rengasdengklok, dan membawanya kembali ke Jakarta, ke rumah Laksamana T Maeda.

Sementara Maeda, mempertaruhkan lehernya, dan mempercayakan Subarjo agar segera membawa kembali Soekarno-Hatta ke Jakarta. Jika keduanya gagal membawa Soekarno-Hatta, bisa dipastikan leher keduanya akan dipenggal Jepang.

"Mr Ahmad Subarjo berhasil membawa Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta. Demikian pula tawanan-tawanan lainnya, dengan dikawal Sukarni yang bersenjatakan pistol. Di depan rumah Hatta, mobil yang membawa Soekarno, dan Nyonya Fatmawati, serta putranya Guntur berhenti. Di sini Nyonya Fatmawati diturunkan. Sedangkan Soekarno-Hatta, dijemput utusan Kaigun, yaitu Forada, dan dibawa ke rumah Vice Admiral T Maida," ungkap Mr Iwa, di halaman 170.

Di rumah Maeda, telah berkumpul banyak tokoh pergerakan kemerdekaan. Di antaranya Mr Iwa Kusuma Sumantri, BM Diah, Sayuti Melik, Tengku Mohammad Hassan, Dr Rajiman Wedyodiningrat, I Gusti Ketut Puja, Dr Supomo, Mr A Abas, Andi Pangeran, Otto Iskandardinata, GSSJ Ratulangi, Andi Sultan Daeng Raja, Dr Syamsi, A Rivai, dan lainnya.

Selain sejumlah tokoh pergerakan kemerdekaan dari Golongan Tua, beberapa orang Jepang, selain Laksamana T Maeda, juga tampak hadir. Mereka menjadi saksi bersejarah, lahirnya bangsa Indonesia yang sangat dramatis.

Setelah istirahat sebentar, Soekarno-Hatta, Mr Ahmad Subarjo, dan Sayuti Melik, langsung merundingkan pembuatan naskah teks proklamasi. Setelah selesai, mereka masuk ke ruang besar yang di dalamnya terdapat anggota-anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

"Oleh Bung Karno, saya diberitahu lebih dahulu tentang bunyi naskah daripada teks pernyataan kemerdekaan yang akan diajukan mereka, kepada sidang. Saya mengusulkan agar kata 'maklumat' diganti menjadi 'proklamasi', karena lebih tepat. Usul ini diterima baik oleh mereka," terang Mr Iwa, di halaman selanjutnya.

Jam 4 pagi, Jumat 17 Agustus 1945, naskah teks proklamasi telah selesai dibuat. Berikut bunyinya:

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan
Kemerdekaan Indonesia
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan
lain-lain diselenggarakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945
Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno-Hatta


Naskah teks proklamasi kemudian ditandatangani oleh Soekarno-Hatta. Sebelumnya, sempat ramai dibicarakan oleh mereka yang hadir di rumah Maeda, yakni siapa yang akan menandatangani naskah teks proklamasi itu. Golongan Pemuda ingin beberapa nama dari kalangan mereka disebutkan. Namun akhirnya, hanya dua nama saja yang boleh dicantumkan, yaitu Soekarno-Hatta.
Alasan dipilihnya Soekarno-Hatta dalam penandatanganan itu, karena mereka menjabat sebagai Ketua dan Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Demikian penandatanganan naskah teks proklamasi dilakukan oleh Soekarno-Hatta atas nama seluruh rakyat Indonesia. Saat itu, jam sudah menunjukkan 04.30 pagi.

Setelah semua yang hadir setuju, diputuskan pembacaan naskah teks proklamasi Jumat 17 Agustus 1945, jam 12.00 siang, di kediaman Bung Karno, Jalan Pegangsaan Timur, Nomor 56, Jakarta. Tentang jam pembacaan teks proklamasi, ada yang menyebut jam 10.00 pagi. Bung Karno dan Bung Hatta kemudian istirahat.

"Upacara dipimpin Dr Muwardi. Sedangkan bendera merah putih dinaikkan dengan khidmat oleh Latief Hendraningrat. Tepat jam 12.00, Bung Karno membacakan teks proklamasi kemerdekaan tersebut, pelan, jelas, dan tegas. Betapa terharu, betapa bangga, serta bahagianya kami pada waktu itu. Saat inilah yang kami perjuangkan, dan saat inilah yang kami tuntut," kenang Mr Iwa, di halaman 175.
Demikian detik-detik jalannya proklamasi kemerdekaan Indonesia berlangsung sangat dramatis. Kini, 69 tahun sudah Indonesia merdeka. Namun perjuangan masih harus dilanjutkan, selama masih ada kemiskinan, selama masih ada penindasan. Selamat Ulang Tahun Indonesia, Merdeka!


(san)

Rabu, 13 Agustus 2014

Haji Darip (2) Tersohor sebab sakti

Reporter : Arbi Sumandoyo
Muhammad Arif alias Haji Darip. (merdeka.com/arbi sumandoyo)
Merdeka.com - Nama Haji Darip tak hanya dikenal di Klender, Jakarta Timur. Sebelum Indonesia merdeka, dia sudah tersohor di seantero Jakarta. Bahkan hingga, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Bukan lantaran dia seorang ulama, Haji darip begitu populer sebab jago silat dan kebal peluru.

Cerita ini seperti dituturkan oleh anak dari pejuang Depok, Daeran atau dikenal Si Pitung dari Depok. Menurut Kong Misan, 76 tahun, ketika zaman penjajahan, dia ikut berjuang bersama ayahnya, daeran, dan Haji Darip. Saat itu para pejuang dan jawara dari sekitar Jakarta bersatu untuk memukul mundur tentara Belanda dan Jepang.

Semua pejuang berjalan kaki menuju Karawang untuk memberanguskan tentara Jepang. Saat pertempuran menghadapi pasukan Jepang di Bekasi, Kong Misan menyaksikan bagaimana Haji Darip menadangi peluru dengan wadah. "Kalau dia memang sakti, peluru saja ditadangin pake ember," kata Kong Misan saat berbincang dengan merdeka.com beberapa waktu lalu.

Cerita kehebatan Haji Darip juga dibenarkan Iwan Cepi Murtado, putra dari mendiang Murtado alias
Macan Kemayoran. Hubungan Murtado dengan Haji Darip terjalin ketika perang melawan Belanda. Murtado berkongsi dengan Haji Darip menyelundupkan senjata untuk pejuang di Bekasi pimpinan Kiai Haji Nur Ali.

Senjata-senjata itu disembunykan di antara tumpukan beras. "Babe pernah kerja sama dengan Haji Darip Klender untuk menyelundupkan senjata. Haji Darip mengamankan senjata biar lolos," kata Iwan Cepi Murtado saat ditemui di kediamannya, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Namanya juga mentereng di Bekasi. Kepala daerah pertama Bekasi Haji Nausan, jawara Betawi, merupakan salah satu murid Haji Darip. "Dulu ada Klender masih masuk wilayah Bekasi, masih guru papi juga. Haji Darip namanya," ujar anak lelaki Haji Nausan, Muhammad Safii saat ditemui di rumahnya, Kampung Gabus, Bekasi, Jawa Barat.

Adfa begitu banyak cerita soal kesaktian Haji Darip, termasuk saat dipenjara. Dia pernah dijebloskan ke dalam penjara Glodok, Jakarta. Meski begitu dia masih bisa bebas bekerliaran dan menemui keluarganya di Klender.

Para sipir penjara juga kebingungan. Haji Darip kerap salat tahajud di luar penjara dan kembali masuk ke dalam sel sesuadah itu. "Babe bisa menghilang. Pernah waktu dipenjara dia sering keluar, tapi balik lagi nggak kabur," kata Haji Uung. Bekas penjara Glodok itu sekarang menjadi pusat belanja barang-barang elektronik kesohor dengan sebutan Harco Glodok.

Kisah lainnya saat hendak menyerang pasukan jepang di Pangkalan Jati. Seluruh anak buah Haji Darip dimandikan kemudian diisi ilmu kekebalan tubuh. Semua dites tak mempan dengan senjata tajam. "Anak buahnya diperintah untuk menyerbu dan mengusir tentara Jepang di Pangkalan Jati, Pondok Gede, " ujar Haji Uung.
[fas]