Jumat, 15 Agustus 2014

Menculik Soekarno dan Hatta

Hasan Kurniawan
SINDONEWS.COM
SEHARI menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pada Jumat 17 Agustus 1945, kini diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, terjadi penculikan terhadap Soekarno-Hatta, dan sejumlah tokoh lainnya, di Jakarta, dan Karawang.
Rumah yang dijadikan tempat penculikan Soekarno dan Hatta (dok:facebook/Hoesein Rushdy)


Peristiwa penculikan tokoh nasionalis dan sosialis demokrat itu, dikenal dengan Peristiwa Rengasdengklok. Para penculiknya terdiri dari beberapa kelompok pemuda pejuang yang masing-masing kelompok mewakili berbagai aliran politik, mulai dari nasionalis, komunis, dan sosialis demokrat. Para pemuda ini dikenal juga Golongan Muda.

Menurut kesaksian perintis kemerdekaan Mr Iwa Kusuma Sumantri, dalam otobiografinya Sang Pejuang Dalam Gejolak Sejarah, penculikan terhadap Soekarno-Hatta, dilakukan Kamis 16 Agustus 1945 pagi.

"Esok harinya, gemparlah Jakarta. Kalangan tentara Jepang marah bukan main. Bung Karno dan Istrinya Fatmawati, serta bayi mereka Osamu Guntur, telah lenyap. Demikian juga Bung Hatta. Sutarjo Karyohadikusumah, Gubernur Jakarta hilang. Dia diculik puteranya sendiri, Setyadi. Sedangkan Bupati Kerawang Pandu Suriadiningrat yang secara kebetulan sedang mengadakan inspeksi di Rengasdengklok, juga ditawan oleh para pemuda," tulis Mr Iwa, di halaman 166.

Penculikan terhadap sejumlah tokoh ini, ada juga yang menyebut peristiwa pengamanan para pemimpin nasionalis dan sosialis demokrat, terhadap rencana besar Golongan Pemuda dalam menyatakan kemerdekaan Indonesia, setelah Jepang kalah perang. 

Penting disebutkan dalam Cerita Pagi ini, beberapa kelompok pemuda pejuang yang terlibat dalam penculikan. Pertama kelompok Tan Malaka dari Partai Republik Indonesia (Pari) yang dipimpin Sukarni, Pandu Kartawiguna, Maruto Nitimiharjo, dan lainnya.

Kelompok pemuda kedua dipimpin Sutan Syahrir, diwakili oleh Johan Syahrasyah, Kusnaini, Ismunanto, dan lainnya. Kelompok ketiga dari Asrama Indonesia Merdeka, dipimpin oleh Chaerul Saleh, Adam Malik, Johan Nur, Darwis, RA Ratulangi, dan lainnya.

Selain ketiga kelompok yang telah disebutkan, kelompok pemuda lain yang juga terlibat dalam peristiwa itu, berasal dari Partai Nasionalis Indonesia (PNI), dan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang di antaranya Sudiro (Embah), Wikana, E Chaeruddin, Joyopranoto, dan lainnya.

Selain beberapa nama itu, nama lain yang penting disebutkan dalam peristiwa penculikan Soekarno-Hatta adalah seorang perintis kemerdekaan Mr A Subarjo, dan seorang tentara Jepang yang bersimpati terhadap kemerdekaan Indonesia, yaitu Laksamana T Maeda. Tanpa peran kedua orang ini, jalannya Republik Indonesia mungkin bisa berlainan dari sekarang.

Subarjo yang dikenal dekat dengan Jepang, seperti juga Soekarno, merupakan orang yang berhasil membujuk para pemuda untuk membebaskan Soekarno-Hatta, dari Rengasdengklok, dan membawanya kembali ke Jakarta, ke rumah Laksamana T Maeda.

Sementara Maeda, mempertaruhkan lehernya, dan mempercayakan Subarjo agar segera membawa kembali Soekarno-Hatta ke Jakarta. Jika keduanya gagal membawa Soekarno-Hatta, bisa dipastikan leher keduanya akan dipenggal Jepang.

"Mr Ahmad Subarjo berhasil membawa Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta. Demikian pula tawanan-tawanan lainnya, dengan dikawal Sukarni yang bersenjatakan pistol. Di depan rumah Hatta, mobil yang membawa Soekarno, dan Nyonya Fatmawati, serta putranya Guntur berhenti. Di sini Nyonya Fatmawati diturunkan. Sedangkan Soekarno-Hatta, dijemput utusan Kaigun, yaitu Forada, dan dibawa ke rumah Vice Admiral T Maida," ungkap Mr Iwa, di halaman 170.

Di rumah Maeda, telah berkumpul banyak tokoh pergerakan kemerdekaan. Di antaranya Mr Iwa Kusuma Sumantri, BM Diah, Sayuti Melik, Tengku Mohammad Hassan, Dr Rajiman Wedyodiningrat, I Gusti Ketut Puja, Dr Supomo, Mr A Abas, Andi Pangeran, Otto Iskandardinata, GSSJ Ratulangi, Andi Sultan Daeng Raja, Dr Syamsi, A Rivai, dan lainnya.

Selain sejumlah tokoh pergerakan kemerdekaan dari Golongan Tua, beberapa orang Jepang, selain Laksamana T Maeda, juga tampak hadir. Mereka menjadi saksi bersejarah, lahirnya bangsa Indonesia yang sangat dramatis.

Setelah istirahat sebentar, Soekarno-Hatta, Mr Ahmad Subarjo, dan Sayuti Melik, langsung merundingkan pembuatan naskah teks proklamasi. Setelah selesai, mereka masuk ke ruang besar yang di dalamnya terdapat anggota-anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

"Oleh Bung Karno, saya diberitahu lebih dahulu tentang bunyi naskah daripada teks pernyataan kemerdekaan yang akan diajukan mereka, kepada sidang. Saya mengusulkan agar kata 'maklumat' diganti menjadi 'proklamasi', karena lebih tepat. Usul ini diterima baik oleh mereka," terang Mr Iwa, di halaman selanjutnya.

Jam 4 pagi, Jumat 17 Agustus 1945, naskah teks proklamasi telah selesai dibuat. Berikut bunyinya:

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan
Kemerdekaan Indonesia
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan
lain-lain diselenggarakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945
Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno-Hatta


Naskah teks proklamasi kemudian ditandatangani oleh Soekarno-Hatta. Sebelumnya, sempat ramai dibicarakan oleh mereka yang hadir di rumah Maeda, yakni siapa yang akan menandatangani naskah teks proklamasi itu. Golongan Pemuda ingin beberapa nama dari kalangan mereka disebutkan. Namun akhirnya, hanya dua nama saja yang boleh dicantumkan, yaitu Soekarno-Hatta.
Alasan dipilihnya Soekarno-Hatta dalam penandatanganan itu, karena mereka menjabat sebagai Ketua dan Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Demikian penandatanganan naskah teks proklamasi dilakukan oleh Soekarno-Hatta atas nama seluruh rakyat Indonesia. Saat itu, jam sudah menunjukkan 04.30 pagi.

Setelah semua yang hadir setuju, diputuskan pembacaan naskah teks proklamasi Jumat 17 Agustus 1945, jam 12.00 siang, di kediaman Bung Karno, Jalan Pegangsaan Timur, Nomor 56, Jakarta. Tentang jam pembacaan teks proklamasi, ada yang menyebut jam 10.00 pagi. Bung Karno dan Bung Hatta kemudian istirahat.

"Upacara dipimpin Dr Muwardi. Sedangkan bendera merah putih dinaikkan dengan khidmat oleh Latief Hendraningrat. Tepat jam 12.00, Bung Karno membacakan teks proklamasi kemerdekaan tersebut, pelan, jelas, dan tegas. Betapa terharu, betapa bangga, serta bahagianya kami pada waktu itu. Saat inilah yang kami perjuangkan, dan saat inilah yang kami tuntut," kenang Mr Iwa, di halaman 175.
Demikian detik-detik jalannya proklamasi kemerdekaan Indonesia berlangsung sangat dramatis. Kini, 69 tahun sudah Indonesia merdeka. Namun perjuangan masih harus dilanjutkan, selama masih ada kemiskinan, selama masih ada penindasan. Selamat Ulang Tahun Indonesia, Merdeka!


(san)

Rabu, 13 Agustus 2014

Haji Darip (2) Tersohor sebab sakti

Reporter : Arbi Sumandoyo
Muhammad Arif alias Haji Darip. (merdeka.com/arbi sumandoyo)
Merdeka.com - Nama Haji Darip tak hanya dikenal di Klender, Jakarta Timur. Sebelum Indonesia merdeka, dia sudah tersohor di seantero Jakarta. Bahkan hingga, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Bukan lantaran dia seorang ulama, Haji darip begitu populer sebab jago silat dan kebal peluru.

Cerita ini seperti dituturkan oleh anak dari pejuang Depok, Daeran atau dikenal Si Pitung dari Depok. Menurut Kong Misan, 76 tahun, ketika zaman penjajahan, dia ikut berjuang bersama ayahnya, daeran, dan Haji Darip. Saat itu para pejuang dan jawara dari sekitar Jakarta bersatu untuk memukul mundur tentara Belanda dan Jepang.

Semua pejuang berjalan kaki menuju Karawang untuk memberanguskan tentara Jepang. Saat pertempuran menghadapi pasukan Jepang di Bekasi, Kong Misan menyaksikan bagaimana Haji Darip menadangi peluru dengan wadah. "Kalau dia memang sakti, peluru saja ditadangin pake ember," kata Kong Misan saat berbincang dengan merdeka.com beberapa waktu lalu.

Cerita kehebatan Haji Darip juga dibenarkan Iwan Cepi Murtado, putra dari mendiang Murtado alias
Macan Kemayoran. Hubungan Murtado dengan Haji Darip terjalin ketika perang melawan Belanda. Murtado berkongsi dengan Haji Darip menyelundupkan senjata untuk pejuang di Bekasi pimpinan Kiai Haji Nur Ali.

Senjata-senjata itu disembunykan di antara tumpukan beras. "Babe pernah kerja sama dengan Haji Darip Klender untuk menyelundupkan senjata. Haji Darip mengamankan senjata biar lolos," kata Iwan Cepi Murtado saat ditemui di kediamannya, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Namanya juga mentereng di Bekasi. Kepala daerah pertama Bekasi Haji Nausan, jawara Betawi, merupakan salah satu murid Haji Darip. "Dulu ada Klender masih masuk wilayah Bekasi, masih guru papi juga. Haji Darip namanya," ujar anak lelaki Haji Nausan, Muhammad Safii saat ditemui di rumahnya, Kampung Gabus, Bekasi, Jawa Barat.

Adfa begitu banyak cerita soal kesaktian Haji Darip, termasuk saat dipenjara. Dia pernah dijebloskan ke dalam penjara Glodok, Jakarta. Meski begitu dia masih bisa bebas bekerliaran dan menemui keluarganya di Klender.

Para sipir penjara juga kebingungan. Haji Darip kerap salat tahajud di luar penjara dan kembali masuk ke dalam sel sesuadah itu. "Babe bisa menghilang. Pernah waktu dipenjara dia sering keluar, tapi balik lagi nggak kabur," kata Haji Uung. Bekas penjara Glodok itu sekarang menjadi pusat belanja barang-barang elektronik kesohor dengan sebutan Harco Glodok.

Kisah lainnya saat hendak menyerang pasukan jepang di Pangkalan Jati. Seluruh anak buah Haji Darip dimandikan kemudian diisi ilmu kekebalan tubuh. Semua dites tak mempan dengan senjata tajam. "Anak buahnya diperintah untuk menyerbu dan mengusir tentara Jepang di Pangkalan Jati, Pondok Gede, " ujar Haji Uung.
[fas]
 

Panglima perang dari Klender

Reporter : Arbi Sumandoyo
Muhammad Arif alias Haji Darip. (merdeka.com/arbi sumandoyo)
Merdeka.com - Foto lelaki bersorban dan berkaca mata hitam itu terpampang di tembok bercat putih. Di sebelahnya juga ada foto pria itu berjejer dengan 33 tokoh ulama Indonesia.

Mungkin tidak banyak orang mengenal wajah dalam foto itu. Namun bagi warga Klender, Jakarta Timur, nama itu tersohor dengan panggilan Haji Darip. Dia adalah pahlawan Betawi turut memerdekakan negeri ini dari penjajahan.

Nama aslinya Muhammad Arif. Dia dilahirkan di Klender pada 1886. Ayahnya bernama Haji Ku
rdin bin Run dan ibunya bernama Mai. "Ayah saya putra Betawi, dia lahir di Klender," kata Haji Uung, anak Haji Darip, membuka perbincangan dengan merdeka.com beberapa waktu lalu.

Cerita Haji Darip menjadi pejuang sudah bukan rahasia umum. Dia mulai ikut bertempur melawan penjajah sepulang dari Makkah, Arab Saudi, pada 1916. Dia berjuang bersama Kiai Mursyidi dan Kiai Hasbiyallah lewat musala kecil tak jauh dari kediamannya di Klender. Musala ini kini berubah menjadi masjid megah bernama Al-Makmur.

Haji tidak hanya dikenal sebagai pemuka agama. Dia juga jago silat. Ketokohannya membuat dia disegani oleh masyarakat. Kekuasaannya terbentang dari Klender hingga Bekasi. "Bandit-bandit dulu pada takut sama Babe, Maklum dulu banyak perampok," ujar Haji Uung dengan logat Betawi kental.

Meski ditakuti para bandit, Haji Darip tidak besar kepala. Saat menghadapi pasukan Jepang, dia merangkul bandit-bandit itu untuk ikut berperang. Saat itu dia memimpin laskar bernama Barisan Rakyat (Bara). Isinya tokoh masyarakat, pemuda, dan jawara dari sekitar Klender. "Babe dijuluki panglima perang," tuturnya.

Kehebatan Haji Darip membuat tentara Belanda dan Jepang takut melewati daerah Klender. Kalau nekat, pasukan dipimpin Haji Darip bakal menyikat habis mereka. Meski hanya bermodalkan golok, anak buah Haji Darip tetap percaya diri melawan tentara Jepang.

Ada kisah menarik sebelum Soekarno dan Mohamad Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Dulu beberapa sumur-sumur di sekitar Klender tak bisa diminum airnya lantaran berwarna merah. penyebab berubahnya warna air lantaran banyak mayat tentara Jepang dibuang ke dalam sumur. "Dulu itu Kali Sunter warnanya juga merah karena banyak tentara Jepang dibunuh dan dibuang di situ," kata Haji Uung.

Haji Darip wafat pada 13 Juni 1981. Dia tidak dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Pusaranya bersebelahan dengan istrinya, Hajjah Hamidah di pemakaman wakaf Ar-Rahman, Jalan Tanah Koja II, Jatinegara Kaum, Pulogadung, Jakarta Timur.
[fas]

Senin, 11 Agustus 2014

Rumah Proklamasi di Rengas Dengklok akan dijual Rp 2 miliar

Rumah penyekapan Soekarno di Rengas Dengklok Karawang. ©2014 Merdeka.com
Merdeka.com - Rumah mendiang Dijaw Kie Siong (anggota Pembela Tanah Air/PETA) di Rengas Dengklok saat ini sangat memprihatinkan. Pendiri kerabat Pencinta Alam, Rudy Badil, mengaku prihatin melihat keadaan rumah tersebut selepas kunjungannya ke sana.

"Kami berkunjung ke rumah tersebut dan kami melihat kondisi rumah tersebut kondisinya tidak terawat selayaknya rumah seorang pahlawan kemerdekaan Indonesia," kata Rudy di Gedung Djoeang 45, Jakarta Pusat, Senin (11/8).

Rudy mengatakan, rumah bekas penyekapan Soekarno-Hatta pada tanggal 16 Agustus 1945 sekaligus tempat kelahiran naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu akan rencananya akan dijual.

"Kami mendengar informasi bahwa rumah tersebut dan tanahnya seluas sekitar 1.008 meter persegi akan dijual seharga Rp 2 miliar,"
imbuhnya.

Menurut Rudy, rumah itu dijual karena kondisi perekonomian Djiaw Kwien Moy sebagai pemilik rumah sudah terlampau miskin.

"Djiew Kwien Moy yang merupakan cucu perempuan mendiang Djiaw Kie Siong sangat memprihatinkan ekonominya sehingga berniat menjual rumah itu," ujarnya.

Rudy pun agak kecewa jika rumah itu dijual. Sebab nantinya tak ada lagi monumen historis tentang kemerdekaan Indonesia.

"Jika sampe dijual dan digusur dan di atas tanah tersebut didirikan bangunan lainnya, maka tidak ada lagi monumen historical yang sangat penting dan tak ternilai harganya dengan uang," tandasnya.

Oleh karena itu, Rudy bersama kerabat Pencinta Alam yang lain bertekad untuk menyelamatkan keberadaan rumah penyekapan Bung Karno dan Bung Hatta tersebut.

"Kami menyerukan saudara-saudari rakyat Indonesia, dari Merauke di Papua sampai ke Sabang di Nanggroe Aceh Darussalam untuk bergotong royong menyumbang uang serelanya," tutupnya.

Rumah bersejarah ini dulunya pernah digunakan para pemuda untuk menculik Soekarno-Hatta pada 6 Agustus 1945. Mereka mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera mengumumkan proklamasi agar kemerdekaan bukan dianggap hadiah dari Jepang.
[gib]

Sabtu, 21 Juni 2014

Sepenggal Kisah Dewi Soekarno

Laporan koresponden Tribunnews.com di Tokyo, Richard Susilo
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Dewi Soekarno, bernama lengkap Ratna Sari Dewi Soekarno (Naoko Nemoto, 74).  Ia adalah istri kelima Presiden Soekarno yang menikah tahun 1962 ketika Dewi berumur 19 tahun.
Memiliki satu orang putri, Kartika Sari Dewi Soekarno (Karina). Jumat (20/6/2014) kemarin, memaparkan kisah perkawinannya dengan Soekarno di acara "Nakai Masahiro no Kinsuma Special" TBS TV jam 22.00 waktu Tokyo.

Dikisahkan, pada saat terjadi gerekan G30S PKI, Soekarno menyingkir ke Istana Bogor. Saat itu Soekarno sudah dalam keadaan sakit.

"Itulah sebabnya saya ke Indonesia lewat Thailand.  Di Thailand bertemu Dubes Indonesia untuk Thailand, Yusuf, menyatakan tak mungkin saat itu ke Indonesia. Maka saya akhirnya kembali ke Jepang bersama Karina," paparnya.

Setelah beberapa saat di Jepang, Dewi mendapat telepon dari seorang wartawan menyatakan Soekarno dalam keadaan kritis di rumah sakit. Dewi segera menuju Indonesia dengan segala resiko bersama Karina putrinya.

Tiba di Jakarta, sebelum ke luar pesawat, diumumkan agar Dewi tetap duduk di tempat. Setelah semua penumpang ke luar, dua anggota Angkatan Darat (AD) masuk ke pesawat dan menyodorkan surat pernyataan yang katanya "Surat dari Tokyo".

Isi surat menjelaskan, semua resiko keberadaan di Indonesia tanggungjawab Dewi sendiri dan harus mengikuti semua aturan yang diminta pihak militer Indonesia. Dewi menandatangani surat kesepakatan itu lalu ke luar pesawat dan diantar militer ke rumah sakit di mana Soekarno sedang dirawat.

"Saya tegang sekali dan curiga. Suasana sangat gelap, mobil tidak dibawa ke selatan tetapi ke utara Jakarta padahal rumah sakit di selatan. Saat itu saya berpikir harus jaga Karina baik-baik dan kalau ada kesempatan, kalau ada apa-apa saya harus kabur dan kontak teman-teman saya segera," ungkapnya.

Ternyata, mobil yang dipakai tentara itu benar mengantarkan Dewi ke rumah sakit di mana Soekarno dirawat. Sebelum memasuki kamar Soekarno, Karina dititipkan di luar atas permintaan seorang penjaga di sana.

Karina menunggu di luar kamar dan Dewi masuk ke kamar Soekarno. Dewi bercerita, ia langsung kaget melihat keadaan Soekarno sangat parah.

Dengan penuh kasih sayang, Dewi menggenggam erat tangan Soekarno dan mengatakan, "Ini saya Dewi," paparnya.

Soekarno tidak merespons apa pun dalam keadaan kritisnya. Keesokan harinya, 21 Juni 1970 Soekarno meninggal dunia dan Dewi pun pergi ke Paris bersama Karina.

Keadaan yang serba tidak menentu itu membuat Dewi harus mencari kerja supaya dapat hidup. Saat usianya 30 tahun dia bertemu Francisco Paesa, orang Spanyol, dan jatuh cinta dengan pekerja bank tersebut.

Keduanya bertekad membuat bank di Swiss. Dewi menjual semua barangnya saat itu dengan harga sekitar 100 juta yen untuk bisa mendirikan bank bersama pacarnya di Swiss.
Dengan alasan Francisco tak punya hak tinggal di Swiss dan akhirnya mengatakan "Saya tidak punya hak mencintaimu", akhirnya berpisahlah Dewi dengan orang Spanyol tersebut dan uang 100 juta yen amblas.

Setelah itu Dewi berpacaran dengan bangsawan Perancis masih keturunan Louis 14, Sablanco. Setelah tunangan dan pacaran 7 tahun akhirnya juga harus berpisah karena menurut aturan bangsawan itu Dewi harus menyetor sejumlah uang.

Padahal, Dewi  bercerita, saat itu ia tak punya uang, dan  bukan orang bangsawan. Bukan pula seprang Eropa. Akhirnya Dewi kembali ke Indonesia menjadi agen dan konsultan usaha untuk berbagai perusahaan gas, minyak dan sebagainya.

Setelah mendapatkan banyak uang Dewi hijrah ke New York selama 10 tahun. "Kehidupan saya berat. Saya dari orang yang tidak berpunya. Saya harus belajar tiga kali lipat, harus bekerja tiga kali lipat, harus usaha tiga kali lipat, tetapi waktu tidur hanya sepertiga dari orang biasa," paparnya.

Dewi kemudian banyak aktif di kegiatan volunteer, membuat Charity Concert dan semacamnya ke berbagai negara. "Saya sudah setahun tidak bertemu Karina," paparnya

Oleh karena itu bersama pembaca acara TBS TV, Kengo Komada, Dewi menuju Jakarta. Di bandara Soekarno Hatta telah disiapkan tiga mobil dan satu mobil pengawal polisi. Kengo kaget saat itu.

"Dewi, itu apaan ya?" tanyanya yang dijelaskan Dewi bahwa itu pengawal polisi karena di Jakarta macet sekali.

Akhirnya rombongan Dewi sampai di tengah Kota Jakarta hanya dalam waktu singkat karena dikawal polisi, "Enak ya kalau jalan lancar begini," komentar Kengo.

Di Jakarta Dewi memperlihatkan bekas tempat tinggalnya bersama Soekarno yaitu yang kini menjadi Museum Satria Mandala. Di Museum tersebut Dewi dan rombongan disambut banyak perwira dan pengurus museum serta berfoto bersama.

Dewi menjelaskan isi Museum dan lokasi bekas kamar tidurnya bersama Soekarno dulu. Kegiatan lain Dewi bersantap siang di taman pada sebuah Residensial luks di tengah Jakarta. Ikan pepes, lontong dan berbagai makanan Indonesia, "Enak sekali ya Dewi," kata Kengo lagi.

Dewi juga bertemu Karina dan cucunya, lelaki, yang sangat ganteng karena berdarah campuran Indonesia, Jepang, dan Belanda. Hasil perkawinan Karina dengan Frits Frederik Seegers yang berasal dari Belanda pada tanggal 2 Desember 2005.

Lalu dibuatlah gambar (sketsa) oleh Dewi gambar wajah cucunya tersebut menjadi model. Setelah itu acara diakhiri dengan kunjungan Dewi ke sebuah rumah sangat mewah, milik seorang konglomerat Indonesia keturunan China.

Senin, 19 Mei 2014

Sunda Kelapa sudah ramai sejak abad kedua belas. Mulanya, tempat ini bernama Pelabuhan Kalapa. Menjadi pintu terdepan bagi Kerajaan Pajajaran yang beribukota di Pakuan.

Reporter : Eko

Dream.co.id - Pelabuhan di pesisir utara Jakarta itu tak pernah mati. Selalu ramai oleh kegiatan manusia. Kapal-kapal kayu raksasa pun seolah terus terjaga. Melakukan bongkar muat barang dari lambung dan geladaknya.
Pelabuhan Sunda Kelapa (Bumi Nusantara)
Itulah kesibukan Pelabuhan Sunda Kelapa. Salah satu pelabuhan di Jakarta yang terletak di Penjaringan, Jakarta Utara. Pelabuhan tua ini pula yang menjadi salah satu pintu gerbang penyebaran Islam di Jawa sekaligus menjadi cikal bakal Kota Jakarta.
Sunda Kelapa sudah ramai sejak abad ke dua belas. Mulanya, tempat ini bernama Pelabuhan Kalapa. Menjadi pintu terdepan bagi Kerajaan Pajajaran yang beribukota di Pakuan —sekarang masuk wilayah Bogor. Kala itu, kapal-kapal dari penjuru nusantara sudah bersandar di sini.
Pelabuhan ini terletak di muara Kali Ciliwung. Laporan Portugis menyebut dulu pelabuhan ini membujur sepanjang satu atau dua kilometer di kedua tepi Kali Ciliwung. Menurut catatan itu, Kali Ciliwung bisa dimasuki 10 kapal dagang yang masing-masing berkapasitas sekitar 100 ton.
Pada tahun 1817, Belanda memperbesar pelabuhan ini menjadi 1.825 meter. Setelah zaman kemerdekaan, kembali direhabilitasi sehingga pelabuhan ini memiliki kanal sepanjang 3.250 meter yang dapat menampung 70 perahu layar dengan sistem susun sirih.
Letak Pelabuhan Kalapa memang strategis. Sehingga pelabuhan ini menjadi pusat perniagaan. Kapal-kapal asing dari China, Jepang, India Selatan, dan Timur Tengah, merapat di pelabuhan ini dengan berbagai barang dagangan.
Para pedagang Arab menjadi salah satu kelompok yang singgah dan menetap di pinggir pesisir ini. Selain berdagang, saudagar-saudagar ini menyebarkan Islam di Tanah Betawi. Komunitas Islam dari Arab ini kemudian hari digeser oleh Belanda ke kampung yang diberi nama Pekojan —sekarang masuk wilayah Jakarta Barat.
Peninggalan-peninggalan penyebaran Islam tempo dulu masih bisa terlihat di sekitar daerah itu. Banyak masjid-masjid tua yang dibangun masih berdiri hingga kini. Sebut saja Masjid Al Anshor, Masjid An Nawier, dan Langgar Tinggi.
Saking strategisnya, bandar laut itu menjadi rebutan. Pada 21 Agustus 1522 Raja Sunda membuat perjanjian dengan Portugis untuk membendung serangan Kesultanan Demak dan Cirebon yang memeluk Islam. Portugis diizinkan membangun benteng di pelabuhan itu.
Kesultanan Demak kebakaran jenggot. Perjanjian itu dianggap jadi ancaman. Dikirimlah Fatahillah oleh Demak untuk mengusir Portugis sekaligus merebut Kalapa. Pada 22 Juni 1527, pasukan Demak dan Cirebon merebut Pelabuhan Kalapa. Nama itu diubah menjadi Jayakarta. Tanggal itu juga diperingati sebagai hari jadi Kota Jakarta hingga kini.
Kekuasaan Demak di Jayakarta akhirnya runtuh. Setelah pada 30 Mei 1619, Jayakarta direbut Belanda di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen. Diubahlah Jayakarta menjadi Batavia. Sebutan itu diambil dari nama suku Keltik yang pernah tinggal di Belanda.
Pertengahan 1800-an, Pelabuhan Sunda Kelapa tak ramai lagi. Terjadi pendangkalan di pelabuhan itu. Sehingga kapal-kapal tak bisa lagi merapat. Barang-barang yang diangklut kapal besar harus diusung dengan perahu kecil menuju daratan. Sebagai gantinya, dibangunlah Pelabuhan Tanjung Priok yang terletak lima belas kilometer di sebelah timur.
Pada 1942, ketika Jepang berkuasa, nama Batavia diubah menjadi Jakarta. Dua tahun berselang, saat Belanda kembali memerintah, nama itu tak diubah. Baru pada tahun 1970-an, pemerintah mengubah nama pelabuhan itu menjadi Sunda Kelapa.
Kini, Pelabuhan Sunda Kelapa masih difungsikan. Banyak kapal-kapal kayu yang bersandar di sini mengangkut berbagai kebutuhan masyarakat. Mulai sembako, kayu, hingga kain. Selain masih sibuk dengan aktivitas perniagaan, Pelabuhan Sunda Kelapa juga menjadi tujuan wisata bahari yang patut dikunjungi. (Dari berbagai sumber)

Kamis, 08 Mei 2014

Ini cerita Soekarno beri 57 ribu ton emas ke Amerika Serikat

Soekarno-Kennedy. ©blogspot.com
Merdeka.com - Jurnalis senior Safari ANS menghabiskan waktunya selama kurang lebih 10 tahun untuk meneliti misteri harta amanah Bung Karno senilai 57 ribu ton emas. Dimulai dari tugas jurnalis untuk menginvestigasi harta karun Bung Karno , Safari semakin intens mendalami persoalan ini.

"Dimulai pertemuan saya dengan seorang Taiwan yang mempunyai dokumen tersebut (harta amanah) dengan tanda tangan Soekarno dan Chang Kai Sek yang berniat mencairkan emas ribuan ton," terang Safari ANS di Kampus Paramadina, Jakarta, Rabu (7/4).

Dari Eropa dan Amerika Serikat, dia memulai investigasi kebenaran The Green Hilton Memorial Agreement yang ditandatangani oleh Kennedy dan Soekarno pada 14 November 1963.

Tak hanya mencari sumber berita, untuk membuat valid data dia mendirikan LSM perbankan bernama International Fund for Indonesian Development yang berpusat di Hongkong.

"Ini fakta bener, dan enggak diragukan lagi. Kalau penipuan banking sistem semua bisa dicek, banyak dokumen ini (harta amanah). Saya melakukan penelusuran harta Bung Karno dengan cara ini," tegasnya penuh percaya diri.

Bahkan dia mengaku tahu dialog antara Sukarno dan Kennedy pada saat penandatanganan. "Ada dialog kecil antara Soekarno dan Kennedy. Kata Kennedy, oke enggak apa-apa saya akui harta sebesar ini ada tapi jangan dituntut pengembaliannya. Kata Soekarno , you bayar royaltinya saja oke, bayar bunga 2,5 persen setiap tahun," sambung dia.

Selain memberikan emas seberat 57 ribu ton, Soekarno pun mengizinkan Amerika membuka tambang di Indonesia dengan syarat tidak boleh dibawa ke luar Indonesia. Jika perjanjian itu dilanggar maka Amerika akan dikenai jatuh tempo atas hutang 57 ribu ton metrik emas sesuai dalam perjanjian tersebut.
Namun beberapa hari berselang Kennedy tewas ditembak, perjanjian ini pun semakin kacau ditambah nasib tragis Soekarno yang dikudeta. Safari mengindikasikan rentetan peristiwa ini merupakan awal bentuk penghilangan perjanjian oleh Amerika.