Jumat, 12 Desember 2014

Kisah lucu Sultan Yogya dimarahi & ditodong TNI penjaga istana

Reporter : Ramadhian Fadillah
Merdeka.com - Sri Sultan Hamengkubuwono X memilih mengalah saat rombongan Presiden Jokowi melintas. Dia ikut menepi saat voorijder pengawal Jokowi memerintahkan rakyat memberikan jalan untuk rombongan pejabat.

Aksi Sultan X ini mengingatkan apa yang dilakukan oleh ayahnya, Sultan Hamengkubuwono IX. Sang Raja Jawa ini memang dikenal egaliter. Tak mau disanjung berlebihan, tapi justru karena itu Sultan Yogya sangat dihormati dan dicintai oleh rakyat dan seluruh penduduk Indonesia.

Ada kisah menarik soal Sultan HB IX. Lagi-lagi gara-gara Sultan tak mau pakai pengawal dan pakai mobil biasa saat blusukan.

Pada Bulan Oktober 1950, Sultan HB IX menjabat wakil perdana menteri di Kabinet Natsir. Bersama A Halim yang menjabat Menteri Pertahanan ad interim, mereka menuju Istana Bogor untuk meninjau proses renovasi.

Kisah ini dituliskan AR Baswedan dalam buku Tahta Untuk Rakyat yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta tahun 2011.

Halim menyopir sendiri mobil itu, bergantian dengan Sultan. Tak ada pengawal atau ajudan yang menyertai mereka.

Saat tiba di Istana Bogor, penjaga di pos depan istana tak memperhatikan mobil yang masuk. Sultan dan Halim pun segera masuk Istana tanpa melapor.

Tiba-tiba beberapa orang penjaga dari Polisi Militer segera sadar. Mereka bergegas mengejar mobil itu. Mobil Sultan dihentikan dengan todongan senjata.

"Hei, apa-apaan ini! Stop segera!" teriak para penjaga Istana.

Komandan Polisi Militer itu menghampiri Halim. Dia membentak menteri pertahanan itu dengan mata melotot.

"Kenapa masuk saja tanpa berhenti lebih dulu? Apa tidak lihat penjagaan?" bentaknya.

Halim mengeles. "Saya hanya sopir, dan karena tidak ada orang yang menyuruh berhenti saya terus saja. Lagipula Tuan yang berada di sebelah saya ini tidak menyuruh saya berhenti," kata Halim sambil melirik Sultan.

Sultan diam saja. Para prajurit itu semua mengerubungi mobil tersebut, mencoba mengenali siapa orang di samping sopir tersebut. Tiba-tiba mereka tersadar.

"Apakah Bapak bukan Sri Sultan?" tanya pemimpin mereka.

Sultan mengangguk. Para tentara itu langsung terperanjat. Siapa yang tidak gentar mengingat Sultan HB IX dan perjuangannya mempertahankan Yogyakarta selama agresi militer Belanda.

"Siaaap! Beri Hormaaat!" teriak sang komandan sigap. Perintah ini lalu spontan diikuti seluruh anak buahnya.

Sultan tak marah dengan penodongan dan bentakan para penjaga itu. Dia segera melakukan peninjauan. Bahkan sempat makan duku di pinggir kali Ciliwung yang membelah Istana.

"Ketika dua jam kemudian kami meninggalkan istana untuk pulang, di pintu gerbang telah siap satu kompi untuk memberi hormat pada mobil kami," kenang Halim

Sabtu, 22 November 2014

Kisah heroik Jenderal Jasin maju hentikan perang Brimob vs TNI

Jenderal Moehammad Jasin. ©buku Gramedia Pustaka Utama/Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang
MERDEKA.COM. Pertengkaran antara TNI dan Brimob rupanya sudah sejak lama, dan bukan cuma di Batam saja. Di tahun 1950an kisah serupa sudah terjadi di tempat lain.

Saat itu Brimob masih bernama Mobiele Brigade. Di Maluku, ada dua kompi yang bermarkas di Ambon dan Tantui, yang berjarak 8 km dari Ambon. Lokasinya asrama Tantui berada di perbukitan. Sementara komandannya bernama Lesnusa. Satu kompi berkekuatan sekitar 100 orang.

Dua kompi itu kebanyakan pemuda Maluku. Mereka direkrut kepolisian untuk menghindarkan para pemuda Ambon dari ajakan Republik Maluku Selatan (RMS) untuk memberontak.

Suatu hari, seorang anggota Mobiele Brigade berkelahi dengan tentara. Penyebabnya sepele, cuma gara-gara rebutan pacar. Akhirnya si anggota MB ditahan oleh Corps Polisi Militer (CPM).

Lesnusa segera memerintahkan wakilnya, Soedirman ke tempat CPM untuk meminta penjelasan. Namun malah Soedirman ikut ditahan tanpa alasan yang jelas.
Kisah ini ditulis dalam Buku Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang: Meluruskan Sejarah Kepolisian Indonesia yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, Jakarta tahun 2010.

Amarah para anggota Mobiele Brigade memuncak. Mereka naik empat truk dengan senjata lengkap dan menyerang markas CPM. Pasukan polisi militer dilucuti, para tahanan dilepaskan dari sel. Mereka bergerak tanpa seizin Lesnusa.

Komandan Militer Maluku Kolonel Soekawati berang atas tindakan ini. Dia mengambil langkah keras dan mengultimatum pasukan Mobiele Brigade menyerahkan diri. Jika ultimatum tak dipenuhi, markas Tantui akan diserbu.
{content-split}

Namun ultimatum diabaikan pasukan Mobiele Brigade. Pihak tentara bukannya menyerang, tapi malah mengulang ultimatum sampai empat kali. Rupanya Kolonel Soekawati sadar kemampuan pasukan Mobiele Brigade ini sangat tangguh. Dia ingat waktu Mobiele Brigade ribut dengan marinir, malah marinir yang disergap dan dilucuti lebih dahulu.

Kolonel Soekawati sampai meminta bantuan Angkatan Udara dan Angkatan Laut untuk ikut menyerang Tantui. Sementara Kompi Mobiele Brigade tetap teguh pendirian dan berada dalam posisi siaga.

Saat itu situasi Kota Ambon tegang. Gubernur dan Kepala Polisi Maluku tak mampu mengatasi situasi ini. Maka khusus dipanggilah Panglima Korps Mobiele Brigade Indonesia Kombes M Jasin ke Ambon.

Siapa yang tidak kenal M Jasin saat itu? Dia dan pasukan Polisi Istimewa berjasa besar saat pertempuran 10 November 1945. Jasin juga yang berani menangkap Mayor Sabaruddin, yang sangat ditakuti di Jawa Timur.

Bahkan Kolonel Soekawati juga rupanya hutang nyawa karena pernah diselamatkan Jasin di Madiun. Karena itu begitu Jasin datang ke Maluku, Soekawati langsung memberikan kesempatan padanya untuk menyelesaikan masalah Mobiele Brigade di Tantui.

Dari pihak militer M Jasin menerima informasi Kompi Tantui sudah liar dan tak akan mendengarkan perintah dari Panglima Mobiele Brigade. Namun Jasin yakin, apapun risikonya, masalah ini bisa diselesaikan.

Jasin berangkat ke Tantui, hanya berdua dengan ajudan. Di bawah bukit dia melihat tentara siaga mengarahkan mortir dan senapan mesin ke arah Tantui.
{content-split}

Sempat terbersit rasa khawatir dalam diri Jasin. Bisa saja dia disangka musuh dan malah ditembak oleh pasukannya sendiri. Namun Jasin bukan pengecut. Di dekat pertahanan Mobiele Brigade dia berteriak.

"Lesnusa! Keluar!" teriaknya.

Yang keluar bukan Lesnusa, tapi tiga anggota Mobiele Brigade berwajah seram dengan bayonet teracung membentak M Jasin.


Untungnya Lesnusa keluar. Dia langsung sigap memberi hormat. Melihat itu, anak buahnya spontan ikut memberi hormat. Jasin pun memanfaatkan momen tersebut.

"Apa Lesnusa masih taat kepada saya?" tanya Jasin.

"Taat, Pak!" jawab Lesnusa.

Jasin memerintahkan Lesnusa segera membariskan pasukan kompinya. Mereka tampak beringas dengan ikat kepala merah.

"Ini panglima kita dari Jakarta. Hormaaat Grak!" kata Lesnusa.

Jasin langsung memberikan wejangannya. "Anak-anakku yang gagah berani. Saya Panglimamu, merasa bangga akan sikap kalian yang pantang menyerah karena kalian setia pada RI. Panglimamu tidak sedikit pun percaya terhadap tuduhan bahwa kalian adalah RMS!"


"Itulah semangat Pattimura. Apakah kalian taat pada Panglimamu?" kata Jasin.

"Siap. Taat!" balas mereka.

Jasin berhasil menguasai mereka. Dia juga menemui keluarga para anggota Mobiele Brigade. Semua lega masalah ini selesai.

Jasin sadar psikologis pasukan Mobiele Brigade dari Maluku. Jika mereka dimarahi dan dikasari malah akan melawan. Mereka harus diberi wejangan, dengan pujian sehingga sadar.

"Kolonel Soekawati sangat gembira atas keberhasilan menyelesaikan masalah. Dia mengucapkan terima kasih sekaligus meminta maaf memanggil saya khusus dari Jakarta jauh-jauh," kata Jasin.

Jasin kemudian memerintahkan 2 kompi pasukan Mobiele Brigade di Maluku dikirim ke Jakarta untuk dilatih kembali. Penggantinya didatangkan dari Jawa sebanyak 2 kompi.

Jasin kelak dikenal sebagai Bapak Brimob Indonesia. Pangkat terakhirnya Komisaris Jenderal.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Tak Ada Keluarga Bung Karno di Peresmian Museum Presiden

Istana Bogor. (TEMPO/ALI SAID)
TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan Museum Balai Kirti di Istana Bogor yang berisi seluruh peninggalan enam presiden, sejak Soekarno hingga SBY. Sayangnya, tak satu pun anggota keluarga Sukarno ataupun Megawati Soekarnoputri hadir.

Satu-satunya mantan presiden yang hadir adalah B.J. Habibie. Perwakilan keluarga Cendana yang hadir adalah Siti Hadiati Rukmana alias Titiek Soeharto. Sedangkan keluarga Gus Dur diwakili Sinta Nuriah dan Yenny Wahid.

"Selamat datang perwakilan Sukarno dan Megawati," kata master of ceremony Tia Dian di Istana Bogor, Sabtu, 18 Oktober 2014.

Namun, sejauh pantauan, tak ada satu pun tamu undangan yang hadir di gedung induk Istana Bogor berasal dari keluarga Sukarno ataupun Megawati.

Balai Kirti adalah museum yang digagas secara pribadi oleh SBY pada 2012, bertujuan mendokumentasikan peninggalan dan mengenang para presiden. Pembangunan dilakukan sejak 2013 dalam kerja sama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pekerjaan Umum, serta Kementerian-Sekretariat Negara.

FRANSISCO ROSARIANS

Sabtu, 13 September 2014

Soekarno Pernah Perintahkan Penghancuran Tugu Obelisk atau Tugu Linggarjati

Dhani Irawan - detikNews
Jakarta - Soekarno pernah berpidato menyinggung tugu berbentuk obelisk yang disebut sebagai tugu Linggarjati. Dalam pidato di sidang pleno Depernas (Bapenas sekarang-red) di Bandung pada 13 Agustus 1960, dia menyebut tugu obelisk itu sebagai tugu Linggarjati, bukan tugu proklamasi.

Dalam pidato yang dikutip dari dokumen Bapenas, Sabtu (13/9/2014) Soekarno meminta tugu itu dibongkar saat 17 Agustus 1960.

"17 Agustus ini, akan saja perintahkan membongkar tugu Linggardjati itu, agar supaja nanti djikalau kita mentjangkul, ajunan tjangkul kita jang pertama, itu berarti bahwa kita di Pegangsaan Timur 56 itu akan mendirikan kita punja tugu proklamasi, persis ditempat dimana dulu proklamasi dibatjakan," tegas Soekarno.

Tak hanya itu saja, Soekarno dahulu juga sempat meminta pembongkaran rumah di Pegangsaan Timur itu. Tugu Proklamasi dahulu merupakan kediaman Soekarno, tempat pembacaan Proklamasi.

"Dan keinginan saja pribadi, sebagai arsitek, ialah supaja gedung jang dinamakan gedung proklamasi itu diratakan dengan muka bumi. Sebaliknja di situ untuk tugu sadja jang mendjulang kelangit 17 meter tinggi, terbuat daripada perunggu, sekelilingnja satu taman jang indah, dimana kita punja anak-anak kita bersenang-senang setiap hari," tutur Soekarno.

Tugu berbentuk obelisk itu masih berdiri kokoh di tempatnya. Di tugu setinggi dua sampai tiga meter dengan puncak berbentuk prisma itu tertempel keterangan, 'Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia Atas Oesaha Kaoem Wanita Djakarta'. Sementara di sisi sebaliknya ada pula 2 buah ukiran plakat.

Plakat‎ pertama yaitu salinan teks proklamasi yang dibacakan Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 saat menyatakan kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, plakat lainnya berada di bawah plakat itu yang berupa gambar peta wilayah Indonesia yang berupa kepulauan.

Tak jelas informasi mengapa tugu itu dinamai Soekarno tugu Linggarjati. Mungkin saja ada kaitan dengan perundingan antara Indonesia dan Belanda di Linggarjati di kawasan Kuningan dan Cirebon, Jawa Barat.

Kamis, 04 September 2014

Rahmat Ono, Samurai Jepang murka lihat koruptor di Indonesia

Rahmat Ono, Samurai Jepang murka lihat koruptor di Indonesia
MERDEKA.COM. Rahmat Shigeru Ono tiba-tiba berteriak marah. Dia kesal luar biasa melihat tayangan berita seorang koruptor ditangkap KPK. Parahnya, koruptor tersebut nampak tak menyesal. Dia masih bisa tertawa pada para wartawan yang meliput di tangga KPK.

"Bodoh! Tidak malu! Harusnya korupsi itu malu dan bunuh diri," teriak Rahmat Ono.

Kisah tersebut diceritakan Agoes Soetikno (56), putra Rahmat Shigeru Ono saat menerima merdeka.com di Malang, Jawa Timur pekan lalu.

Rahmat Shigeru Ono adalah mantan tentara Jepang. Dia kemudian lari dari kesatuannya dan ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Rahmat melatih para pemuda Indonesia soal kemiliteran dan intelijen. Dia juga sering memimpin serangan terhadap tentara Belanda semasa perang kemerdekaan.

"Papi selalu marah lihat berita soal korupsi. Dia merasa perjuangannya dan kawan-kawannya dulu mempertahankan kemerdekaan dikhianati. Banyak teman-teman Papi yang gugur semasa perang kemerdekaan. Dia merasa sedih melihat setelah merdeka malah pada korupsi," lanjut Agus.

Agoes pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Banjarbaru di Kalimantan Selatan. Dia ingat, setiap ada berita korupsi DPRD atau anggota DPRD yang ditangkap KPK, ayahnya langsung telepon.

"Awas kamu kalau korupsi. Papi selalu bilang jangan korupsi," kenang Agoes.

Erlik Ono (47), putri Rahmat Shigeru Ono juga menceritakan pengalaman serupa. Kebetulan Erlik bekerja di Dirjen Pajak. Saat ramai kasus mafia pajak Gayus Tambunan, Erlik pun dicereweti sang ayah.

"Kamu nggak takut kerja di Pajak? tanya Papi. Saya bilang saya nggak korupsi kayak Gayus, buat apa takut," kenang Erlik sambil tertawa.

Erlik ingat peringatan ayahnya bukan hanya sekali dua kali memperingatkan mereka supaya jujur. Kalau soal ini, Rahmat Ono terkenal keras. Pesan supaya tak korupsi terus disebut Rahmat Ono hingga meninggal dalam usia 95 tahun, Senin (25/8) lalu.
"Papi pernah kerja di perusahaan Jepang di Jakarta. Jika dia mau, dia bisa saja memanfaatkan jabatan tapi dia tetap tidak mau," kata Agoes menambahkan.

Rahmat Ono lahir pada 26 September 1918 di Prefektur Hokkaido. Meninggal di tempat yang sangat jauh dari tanah kelahirannya. Dia selalu merasa Indonesia adalah tanah airnya. Sang samurai bangga pernah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, walau harus kehilangan tangan. Dia tinggal dan meninggal di Indonesia.

Maka tak malukah pejabat yang bisa merdeka karena perjuangan Rahmat Ono dan kawan-kawannya kini malah bergelimang hasil korupsi?

Kamis, 28 Agustus 2014

Jimat Penguat

HISTORIA.CO.ID - Para pemberontak Banten yakin dengan jimat dapat memenangi perang.
PADA 29 September 1887, para pemberontak berkumpul di rumah pimpinan mereka, Haji Wasid, untuk membahas pengumpulkan senjata. Namun para kiai berpendapat sebaiknya tak usah mencari senjata api. Alasannya, mayoritas pemberontak belum bisa menggunakannya. Untuk mendatangkannya dari luar Banten juga sulit. Mereka bisa mengandalkan kelewang dan yakin akan memenangi perang suci melawan Belanda dan antek-anteknya. 
http://www.historia.co.id/
Selama tiga bulan terakhir tahun 1887 hingga pertengahan tahun 1888, para pemberontak mempersiapkan diri dengan kegiatan pencak silat, pengumpulan dan pembuatan senjata, dan propaganda ke luar Banten. “Kegiatan lain terus dilakukan, seperti membakar semangat dengan khotbah-khotbah tentang ramalan-ramalan dan ajaran tentang Perang Sabil dan mendorong mereka untuk memakai jimat dan ikut dalam pertemuan-pertemuan keagamaan,” tulis Sartono Kartodirdjo dalam Pemberontakan Petani Banten 1888.
Dalam lampiran laporan Kontrolir Serang tanggal 19 Mei 1889 No 16, Snouck Hurgronje menerjemahkan jimat Arab yang digunakan para pemberontak Banten itu. Menurutnya, sebagaimana dikutip E. Gobée dan C. Adriaansee dalam Nasihat-nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936, jimat itu bertuliskan: “Inilah penyelamat yang diberkahi. Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ya Allah, ya Yang Hidup, ya Yang Berdiri Sendiri, Engkaulah kujadikan kekuatanku. Maka lindungilah aku dengan perlindungan selengkap-lengkapnya penjagaan...”
Di dalam jimat juga terdapat gambaran berkekuatan mistik, berupa sebuah lingkaran yang dikelilingi nama empat malaikat tertinggi dan nama-nama Allah; Muhammad; (empat khalifah) Abu Bakar, Umar, Usman, Ali; (putra-putra Ali) Hasan, Husain; (dua sahabat Nabi Muhammad) Sa’ad dan Sa’id; sementara di tengahnya terdapat surat Thaha ayat 39. Ada pula gambar pedang Ali bermata dua. Termaktub di situ: “Tidak ada orang [pahlawan] selain Ali, dan tidak ada pedang selain Du’l-faqar (maksudnya Zul faqar).”
Menurut Seyyed Hossein Nasr, ungkapan “tidak ada orang (pahlawan) selain ‘Alî, dan tidak ada pedang selain Du’l-faqar (maksudnya Zul faqar)” atau “la fata illa ali, la saifa illa dzu al-fiqar, (dzu al-fiqar adalah pedang bermata dua terkenal milik Ali)”, secara tradisional dinisbahkan kepada Malaikat Jibril, yang dia sampaikan kepada Nabi.
“Pribadi Ali yang bijak sekaligus ksatria, perenung sekaligus pelindung, sepanjang abad senantiasa mendominasi seluruh horizon futuwwah atau Keksatriaan Spiritual,” tulis Hossein Nasr, “Kekesatriaan Spiritual”, termuat dalam Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam: Manifestasi. Tentu saja, futuwwah yang diinginkan para pemberontakan Banten dari jimat itu adalah “keksatriaan fisik”.
Hurgronje juga menulis, “Selebihnya... jimat ini hanya memuat doa-doa pengampunan dosa dan rahmatan ‘ind al-maut (rahmat dalam kematian).”
Naskah tersebut, lanjut Hurgronje, pasti dibuat dengan pertimbangan gerakan di Banten dan dapat dipakai sebagai jimat untuk Perang Sabil.
Jimat itu, tulis Martin van Bruinessen, diperoleh dari Mekah karena Mekah dianggap sebagai pusat kosmis utama dan sumber ngelmu atau kesaktian. Dalam kosmologi Jawa, seperti halnya kosmologi Asia Tenggara lainnya, pusat-pusat kosmis, titik temu antara dunia fana dan alam supranatural, memainkan peranan sentral. Kuburan para leluhur, gunung, gua dan hutan tertentu serta tempat angker lainnya bukan hanya diziarahi sebagai ibadah tapi juga dikunjungi untuk mencari ilmu (ngelmu) alias kesaktian dan legitimasi politik (wahyu –istilah yang dipinjam kerajaan Mataram dari Islam dengan mengubah artinya).
“Setelah orang Jawa mulai masuk Islam, Mekah-lah yang dianggap sebagai pusat kosmis utama. Karena Mekah merupakan kiblat bagi seluruh umat Islam dan tempat wahyu turun kepada Nabi, sehingga Mekah menjadi pusat keilmuan Islam,” tulis Van Bruinessen dalam “Mencari Ilmu dan Pahala di Tanah Suci: Orang Nusantara Naik Haji,” dimuat di Ulumul Qur’an, 1990.
Menurut Sartono, pemimpin-pemimpin pemberontak dan pengikutnya yang disilaukan oleh keyakinan tak dapat dikalahkan –salah satunya karena jimat– dalam Perang Sabil, tak menyadari bahwa organisasi dan strategi militer yang lebih efektif dari Belanda membawa mereka kepada bencana.  
Satu batalyon tentara dari Batavia memukul-mundur dan akhirnya melumpuhkan para pemberontak. Para pemimpinnya, termasuk Haji Wasid, tewas.
Pada akhirnya, tradisi jimat (ngelmu) lestari hingga kini dan menjadi sumber kekuatan jawara-jawara Banten. Baik “jawara putih” yang memperoleh kesaktiaan dari sumber-sumber agama Islam maupun “jawara hitam” dari tradisi pra-Islam, jangjawokan atau elmu Rawayan. “Meskipun demikian, kenyataannya sulit dibedakan secara tegas antara jawara putih dan jawara hitam karena umumnya mereka menggunakan kedua sumber tersebut. Sehingga dijumpai praktik-praktik magis yang diawali dengan pembacaan syahadat atau ayat-ayat Alquran kemudian disambung dengan membaca sejenis jangjawokan,” tulis Agus Fahri Husein dalam Tasbih dan Golok.
(Historia - Hendri F. Isnaeni)

Senin, 18 Agustus 2014

DKI Bentuk Tim Pemburu Aset Warisan Belanda

Rumah cantik menteng di Jl.Teuku Cik Ditiro No. 62, tahun 2001. Dok.TEMPO/ Melly Anne
TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah mengatakan pihaknya bakal membentuk tim untuk meneliti rumah dan gedung warisan pemerintah Belanda di seluruh Jakarta. Tim peneliti ini bertugas mendata bangunan-bangunan tersebut agar bisa disertifikasi untuk menjadi milik pemerintah.

"Kami bentuk tim untuk mengecek pemiliknya siapa, apakah sudah dialihkan atau belum," ujar Saefullah di Balai Kota, Senin, 18 Agustus 2014.Ia menambahkan, tim terdiri atas pihak-pihak yang berurusan. Misalnya, Dinas Perumahan, Badan Pengelola Keuangan Daerah, dan Badan Pertanahan Nasional. Tim ini bakal bergerak cepat. Ia memberi waktu satu-dua bulan bagi tim tersebut untuk menyelesaikan tugas.

Kepala Dinas Perumahan Yonathan Pasodung menyebutkan pemilik 1.281 bangunan warisan Belanda yang terdiri atas rumah dan gedung di seluruh DKI Jakarta sudah mengajukan surat izin penghunian (SIP). Jumlah tersebut terbagi menjadi sembilan kategori. Namun, setelah dicek, ternyata total ada 1.313 bangunan warisan pemerintah kolonial di Ibu Kota, bukan 1.281.(Baca : Ahok Bahas 1.200 Rumah di Menteng)

Rincian sembilan kategori tersebut yakni 62 unit milik Panitia Pelaksanaan Penguasaan Benda Tetap Milik Perseorangan Warga Belanda, 70 gedung negeri milik Kementerian Pekerjaan Umum, 35 unit sudah dimiliki oleh perusahaan negara termasuk bank.

Selanjutnya, 86 unit milik perusahaan swasta dan asuransi, 53 unit dikuasai presidium kabinet, yayasan dan gereja memiliki 23 unit, pemilik perorangan sebanyak 429 unit, kota praja 10 unit, dan yang tidak diketahui dan tidak terdaftar sebanyak 564 unit. "Yang tidak diketahui ini yang akan kami data, siapa pemiliknya. Bisa saja dimiliki oleh kota praja, perorangan, dan lainnya," kata Jonathan.

Menurut Jonathan, dari kesembilan kategori itu, yang pasti bisa disertifikasi yakni 10 unit milik kota praja. Bangunan kota praja adalah bangunan peninggalan pemerintah Belanda, bukan milik perorangan.