Kamis, 02 April 2015

Rahasia Soekarno memikat wanita cantik

Reporter : Ramadhian Fadillah

soekarno-istri. merdeka.com/istimewa
Merdeka.com - Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dikenal sebagai penakluk wanita. Menikah sembilan kali, dengan mudah wanita takluk padanya. Sebenarnya apa rahasia Soekarno? Mengapa wanita selalu terpikat padanya?
Mantan Ajudan Soekarno, Bambang Widjanarko menceritakan Soekarno memang jagoan soal wanita. Kharisma Soekarno ditambah intelektualitas yang tinggi, membuat wanita-wanita bertekuk lutut.

"BK (Bung Karno) benar-benar dapat disebut jagoan. Terhadap setiap wanita yang sedang dihadapinya, dia selalu dapat mencurahkan perhatiannya kepada wanita itu. Sehingga wanita tersebut merasa bahwa dia satu-satunya wanita yang paling dicintai atau dihargai BK," tulis Bambang Widjanarko dalam buku 'Sewindu Dekat Bung Karno' yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia.

Selain itu, Soekarno juga selalu bersikap gallant atau sopan dan hangat pada setiap wanita. Tak peduli wanita itu tua atau muda. Soekarno tak segan-segan mengambilkan minum sendiri untuk tamu wanitanya.

Soekarno juga selalu membantu memegang tangan wanita, jika wanita itu keluar mobil. Dia juga mengumbar pujian pada wanita. Hal ini yang selalu membuat para wanita tersanjung.

Pujian seperti "Alangkah serasinya kain kebaya yang anda pakai," atau "Nyonya kelihatan lebih muda dengan tatanan rambut baru itu," sering terdengar dari mulut Soekarno.

Maka dalam berbagai kunjungan di Eropa dan Amerika, Soekarno sering sekali mendapat pujian dari para wanita. Mulai dari politikus wanita, hingga artis sekelas Marilyn Monroe.

"Your President is real gentleman," ujar Bambang menirukan pujian para wanita itu.

Namun Bambang mencatat, akibat lagak seperti Arjuna itu pula Soekarno sering mendapat masalah dengan wanita. Tentunya tidak mudah mempunyai empat istri sekaligus dan semuanya minta menjadi nomor satu.

"Itulah BK sang arjuna yang dalam hidupnya terus terlibat persoalan wanita dan secara berani menerapkan politik 'vivere pericolozo' dalam soal asmara," kenang Bambang Widjanarko.
[bal]

Senin, 23 Februari 2015

Kisah Kolonel Gatot Soebroto panggil Soeharto 'monyet' saat perang

Reporter : Yulistyo Pratomo
gatot subroto dan soeharto. ©2015 Merdeka.com
 Merdeka.com - Siapa yang tak kenal dengan Jenderal Gatot Soebroto, sosok pahlawan pejuang kemerdekaan ini memiliki peran yang sangat berarti dalam perjuangannya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari serangan Belanda. Dia dikenal sebagai jenderal lapangan kesayangan TNI AD.

Gatot dikenal terbuka dan ceplas-ceplos. Ada kisah menarik bagaimana hubungan antara Gatot Soebroto dan Soeharto.

Saat itu keduanya terlibat pertempuran di Ambarawa, Jawa Tengah. Soeharto yang kala itu masih berpangkat Mayor diperintahkan untuk menemui atasannya, Gatot Soebroto. Namun, Gatot yang berpangkat Kolonel gemar memanggil anak buah dengan kalimat sesukanya.

"Hei monyet, mari ke puncak sini," teriak Gatot.

Panggilan 'monyet' ini merupakan kalimat legendaris yang selalu diingat seluruh anak buahnya. Sebutan itu selalu keluar jika keadaan hati Gatot sedang senang.

Kisah ini ditulis dalam buku 'TB Silalahi: Bercerita Tentang Pengalamannya' karya Atmadji Sumarkidjo terbitan Kata Hasta Pustaka terbitan 2008, Gatot dan Soeharto memiliki hubungan dekat.

Dalam pertemuan itu, Gatot memerintahkan Soeharto untuk menjaga puncak sebuah bukit di Ambarawa pada malam hari. Bukit ini dipandang sangat strategis bagi para pejuang karena bisa memantau pergerakan musuh, jika jatuh ke tangan Belanda maka akan berakibat buruk bagi TNI kala itu.

Setelah memberikan perintah, Gatot menyerahkan sepenuhnya keamanan di atas bukit kepada sosok yang akan menjadi presiden kedua RI ini. Namun, dia justru gemetar melihat bukit itu ternyata dibombardir secara bertubi-tubi dari Belanda. Suara ledakannya sangat membahana, bahkan Gatot sempat berpikir Soeharto dan anak buahnya pasti tewas dalam serangan itu.

Segera setelah serangan berhenti, Gatot bersama anak buahnya langsung menuju bukit tempat Soeharto serta pasukannya berada. Dia pun memerintahkan beberapa orang kepercayaannya mencari setiap jenazah. Gatot menangis membayangkan jenazah Soeharto ada di antara para korban.

Setibanya di puncak bukit, dia terkejut saat menyaksikan tak ada satu pun mayat yang berserakan. Bahkan, ia lebih terkejut lagi melihat Soeharto dan pasukannya berjalan tanpa terluka sedikit pun dari sisi lain bukit tersebut.

Bagi Gatot, Soeharto adalah salah satu anak buah kesayangannya, alhasil ketika melihat Soeharto keluar dari persembunyian tanpa terluka membuatnya terharu dan langsung memeluknya.

"Kamu masih hidup," ucapnya singkat sembari memeluk Soeharto.

Tak lama, dia pun bertanya bagaimana Soeharto berhasil selamat dari serangan tanpa terluka sedikit pun. Dan Soeharto pun bercerita, menjelang malam setelah mendapat perintah itu, dia berpikir bukit tersebut pasti akan mendapat serangan dari Belanda mengingat posisinya yang sangat strategis.

Soeharto menyadari jika tetap bertahan akan membahayakan nyawanya dan seluruh pasukan. Atas alasan itu, Soeharto mengajak anak buahnya bersembunyi di sisi lain bukit. Perkiraan pun tepat, serangan mortir dan bombardir terjadi malam itu juga.

Mendengar itu, Gatot gembira bukan kepalang. Dia pura-pura marah, tetapi hatinya sangat senang.

"Hei monyet, berarti kau melawan perintah. Saya perintahkan kamu tetap di sini tapi ternyata kau tinggalkan."

Meski marah perintahnya diabaikan, namun Gatot tetap bersyukur Soeharto dan seluruh pasukannya tetap selamat. Kelak, Gatot Soebroto diangkat jadi pahlawan nasional dan namanya menjadi nama jalan protokoler di semua ibu kota provinsi.

Kamis, 05 Februari 2015

Bang Pi'ie, jawara Pasar Senen jadi menteri (1)

Bang Pii (tengah). ©2015 Merdeka.com/Wordpress
Merdeka.com - Wajah dalam foto itu tak asing. Mukanya tampan dengan kumis tipis melekat. Namun banyak orang tak mengenal lelaki dalam foto itu. Dialah Imam Syafi'ie, kesohor dengan panggilan Bang Pi'ie. Era tahun 1960 an, Bang Pi'ie ditakuti oleh para bandit di sekitaran Jakarta.

Bang Pi'ie begitu dia hangat disapa merupakan salah satu pahlawan negeri ini. Dia bekas jawara Pasar Senen di Jakarta Pusat dan satu-satunya jagoan yang pernah mengisi Kabinet Pemerintahan di negeri ini. Jabatannya mentereng, Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet Dwikora bentukan Presiden Soekarno.

Perjalanan panjang Bang Pi'ie begitu berwarna. Sejak usianya 4 tahun, Bang Pi'ie sudah menjadi anak yatim. Anak ke dua dari empat bersaudara ini terpaksa harus dititipkan kepada bibinya, Zaenab pedagang makanan di Pasar Senen. Di usia itu Syafi'ie sudah berpikir bagaimana memberi makan ibunya dan dua adiknya, Muhammad Safrie dan Supenah.

Usia 5 tahun Pi'ie kecil membuat komplotan sesama anak seusianya. Dia mengkoordinir teman-temannya di Pasar Senen untuk mengambil sayur-sayuran maupun beras. Hasil itu yang kemudian dikirim kepada ibunya di Bangka, Jakarta Selatan.

"Ibaratnya kalau sekarang anak kolong. Jadi kalau ada bongkaran sayuran dia ambil sayuran. Kalau ada beras dia kumpulin beras," kata anak Bang Pi'ie, Edi Syafi'ie saat berbincang dengan merdeka.com kemarin di Hotel Milenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Edi merupakan anak dari istri ketiga Bang Pi'ie, Fitriyana.

Sebelum dititipkan kepada bibinya, Syafi'ie telah diminta kerabat ayahnya, Habib Qodir Al-Hadad, seorang ulama asal Pasar Sawo, Kebon Nanas, Jakarta Timur. Permintaan itu memang diamanatkan oleh mendiang ayahnya, Mugeni sebelum pergi menghadap sang khalik. Mugeni meninggal setelah ditebas golok dari belakang oleh adik seperguruannya bernama Ayub.
Tujuan menghabisi Mugeni, kata dia, buat menguasai Pasar Senen. "Kakek saya dulu jawara di Pasar Senen, dia asli Marunda," ujar Edi.

Di usia tujuh tahun, Syafi'ie kecil mulai belajar ilmu beladiri. Habib Qodir, ayah angkatnya mempunyai tujuan biar Bang Pi'ie jadi jawara. Ada 32 guru mengajarkan Syafi'ie ilmu beladiri. Dari tiga saudara kandung laki, hanya Syafi'ie yang dibawa Habib Qodir untuk berguru. Alasannya, Syafi'ie memiliki kekuatan buat menerima berbagai ilmu. Dari 32 guru, salah satunya Haji Darif, pahlawan asal Klender, Jakarta Timur.
"Guru-gurunya secara bergantian mengajarkannya," tutur Edi.

Hingga akhirnya, Syafi'ie kecil harus mendekam dibalik jeruji besi penjara anak di Tangerang. Ada kisah menarik saat dia dijebloskan ke dalam penjara. Meski usianya baru 11 tahun, Bang Pi'ie sudah menjadi jawara di lapas itu. Bang Pi'ie hanya cukup waktu semenit melumpuhkan jawara dalam lapas anak Tangerang.

Ceritanya begini, waktu baru masuk, Bang Pi'ie di pecundangi, dia dipukul oleh anak berdarah Ambon, penguasa Lapas Tangerang. Bang Pi'ie menangkis pukulan, dia lantas mengalahkan jawara lapas itu seorang diri. Sejak saat itu, namanya makin kesohor. Apalagi, bang Pi'ie ditangkap lantaran dia dituding mengorganisir para preman di Pasar Senen.

"Dia ditangkap dan dibawa ke LOG. Hanya setahun dia mendekam," katanya. Perjalanan Bang Pi'ie memang banyak dihabiskan di Pasar Senen. Namun namanya tetap kesohor di kalangan anak muda sekitar Jakarta. Usia 16 tahun usai kembali berguru, Bang Pi'ie mulai mengorganisir teman-temannya di Pasar Senen dan pada usia 19 tahun, Syafi'ie mulai kesohor sebagai Jawara setelah mengalahkan pimpinan preman bernama Muhayar asal Cibedug, Bogor, Jawa Barat. Muhayar merupakan pengganti, Ayub, teman seperguruan mendiang ayahnya.

"Dia mengalahkan Muhayar. Muhayar ini pengganti Ayub yang membunuh kakek saya," ujar Edi.

Tersohornya nama Bang Pi'ie membuat dia disegani hingga berbagai pelosok di luar Jakarta. Masuknya Jepang pada tahun 1943 membuat nama Bang Pi'ie ditunjuk sebagai pimpinan laskar bambu runcing. Isinya para jawara dari Jakarta, Depok, Tangerang hingga Bekasi. Laskar ini ikut berjuang saat detik-detik sebelum kemerdekaan.

Haji Darif dari Klender pernah berkongsi dengan Bang Pi'ie sebelum kemerdekaan. Dia bersama laskarnya ikut berjuang ketika memerdekakan negeri ini dari para penjajah. "Dulu pimpinan laskar itu Pak Syafi'ie. Bapak dulu di bawah komando dia," kata Uung, anak dari Haji Darif saat berbincang dengan merdeka.com beberapa waktu lalu.

Sebagai orang dekat dengan Soekarno, setelah kemerdekaan, Bang Pi'ie diangkat menjadi Menteri Keamanan Rakyat. Dia dinilai mampu mengkoordinir para bandit untuk tidak berbuat onar. Maklum, setelah proklamasi kemerdekaan, situasi keamanan makin tidak terkendali lantaran banyak terjadi perampokan.

Anak bekas Sekondan Menteri Keamanan Rakyat di bawah bang Pi'ie, Mat Depok menuturkan jika ayahnya memang dipercaya untuk membantu Bang Pi'ie mengendalikan para bandit. Bahkan dia pernah ikut mengalami perjuangan bersama Bang Pi'ie saat pertempuran dengan tentara Belanda di Bekasi, Jawa Barat. "Iya ayah saya pernah menjadi sekondan menteri Pak Syafi'ie," ujar Kong Nisan, anak Mat Depok saat ditemui di kediamannya, Tanah Baru, Depok, Jawa Barat pertengahan tahun lalu.
Soekarno berkuasa, Bang Pi'ie diangkat menjadi Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet 100 hari Menteri bentukan Presiden Soekarno

Selasa, 03 Februari 2015

Masjid Al Mujahidin Bekasi, Basis Perjuangan Pahlawan Nasional

Reporter : Baiquni 
Masjid Al Mujahidin Cibarusah, Saksi Bisu Perlawanan Pada Penjajah (gunrakyatbekasi.wordpress.com)

 Masjid Al Mujahidin Cibarusah, Bekasi ini dulunya menjadi markas komando dan kamp pelatihan semi militer anggota Laskan Hizbullah melawan penjajah Jepang.

 Dream - Masjid lazimnya sebagai tempat ibadah bagi kaum Muslim. Namun, pada zaman penjajahan dulu, masjid tak jarang digunakan sebagai basis perjuangan.

Dan salah satu tempat ibadah kaum Muslim yang menjadi basis perjuangan bangsa itu adalah Masjid Al-Mujahidin yang terletak di Kampung Babakan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Masjid ini pernah menjadi markas komando Laskar Hizbullah melawan Belanda dan Jepang.
Laskar Hizbullah merupakan satuan pejuang bentukan para aktivis Islam yang tergabung dalam Partai Masyumi pada tahun 1944. Kesatuan ini dibentuk untuk mengimbangi tentara Pejuang Tanah Air (PETA) bentukan Jepang. Laskar ini beranggotakan pemuda Muslim yang dilatih dengan pelatihan semi militer.
Para pemuda Muslim yang tergabung dalam kesatuan ini digembleng di Masjid Al-Mujahidin ini. Lingkungan sekitar yang saat itu masih berupa hutan dan tidak jauh dari pusat kekuasaan Jepang menjadikan masjid ini sebagai tempat strategis untuk melatih pasukan.
Kamp pelatihan ini melahirkan beberapa nama pahlawan nasional. Salah satunya adalah KH Zainul Arifin, yang mampu menggelorakan semangat perjuangan di kalangan anak muda terutama santri. Mereka kemudian menjadi garda terdepan dalam perlawanan mengusir penjajah.
Setelah menjalani pelatihan, para anggota laskar diperintahkan untuk menyebar ke seluruh penjuru negeri. Mereka berada di bawah komando KH Zainul Arifin selaku Komandan Tertinggi. Dalam menjalankan komandonya, ia dibantu oleh Abdul Mukti, Ahmad Fathoni, Muhammad Syahid, Amir Fattah, Prawoto Mangkusasmito, dan KH Mukhtar.
Saat ini, Masjid Al Mujahidin Cibarusah masih tetap digunakan sebagai tempat salat. Selain itu, masjid ini juga menjadi basis masyarakat untuk berkegiatan dalam bidang agama. (Dari berbagai sumber)

Minggu, 25 Januari 2015

Waspadai Bahaya Laten PKI Gaya Baru

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Bahaya laten Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi perhatian Direktur CICS, Arukat DJ. Menurut dia, kendati tidak lagi mengedepankan aksi dengan angkat senjata, namun PKI kini sudah bermetamorfosa kemana-mana.
Kader Partai Komunis Indonesia (PKI)
"Kita bisa melihat, dimana-mana ada konflik di situ juga ada bekas tokoh-tokoh PKI," kata Arukat di Denpasar, Bali, Ahad (25/1).
Hal itu dikemukakan Arukat dalam ceramahnya pada kegiatan Reuni Akbar Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PKB PII). Kegiatan yang dihadiri para aktivis Angkatan 66 dan aktifis PII dari beberapa generasi itu mengambil tema "Revitalisasi Peran KB PII Dalam Menghadapi Indonesia Baru."
Dalam ceramahnya, Arukat mengatakan, PKI dengan faham komunismenya bisa ada di mana-mana. Selain ada yag terang-terangan membanggakan partai komunis itu, ada juga yang melakukan gerakan secara tersamar atau penyusupan-penyusupan.
Komunis gaya baru, kata Arukat, telah banyak mengalami perubahan dari bentuk dan ideologi aslinya. Dulu, orang-orang PKI selalu menyuarakan kepentingan rakyat tertindas dan tidur di rumah-rumah gubuk, namun sekarang mereka sudah berdasi, rapat dan tidur di hotel-hotel mewah.
"Namun yang diperjuangkannya di Indonesia tetap, salah satunya yakni bagaimana menguasai pemerintahan," katanya.
Arukat juga menyoroti pemberontakan yang dilakukan PKI pada 1948 dan 1965 yang menimbulkan banyak korban. Karena itu, terkait desakan agar pemerintah membuat permohonan maaf atas peristiwa G30S PKI 1965, Arukat menyatakan akan menentangnya habis-habisan. "Kami dari Jawa Timur yang paling pertama menentang jika pemerintah berencana mengajukan permohonan maaf," kata Arukat.
Pembicara lainnya, H Ahmad Hasan Ali BA mengemukakan hal senada. Menurut Hasan Ali, kader-kader PKI bisa menyusup kemana-mana, bahkan ke lembaga-lembaga berazaskan Islam. "Karenanya harus diwaspadai hingga di lingkungan terkecil, jangan sampai ummat Islam terprovokasi oleh orang yang ternyata penyusup," katanya

Sabtu, 17 Januari 2015

Akhir perjalanan Kusni Kasdut, si penjahat legendaris

Reporter : Mohamad Taufik


Kusni kasdut. wordpress.com
 Merdeka.com - Kisah petualangan penjahat legendaris Kusni Kasdut sudah banyak ditulis dalam berbagai artikel. Penjahat yang juga mantan pejuang melawan penjajah Belanda pada masa revolusi 1945 itu terlibat beberapa kali perampokan dan pembunuhan di negeri ini, salah satunya merampok Museum Nasional dan membunuh satu petugas pada 31 Mei 1961.

Kusni Kasdut bernama asli Waluyo. Dia lahir sebagai pemuda miskin, anak seorang petani miskin di Blitar, Jawa Timur. Di masa revolusi kemerdekaan dia tergabung tak resmi sebagai laskar rakyat yang bahu membahu bersama TNI melawan penjajah Belanda.

Ketika revolusi berakhir, Kusni Kasdut justru dibuat bingung. Kekacauan membuatnya bisa beristrikan seorang gadis Indonesia dari keluarga menengah, Sri Sumarah Rahayu Edhiningsih. Seorang istri yang ia cintai, ia banggakan, dan karena itu melahirkan tekad untuk menyenangkannya dengan kehidupan layak. Sementara sejak lahir, Kusni senantiasa bergelut dengan kemiskinan.
Kusni terus mencari pekerjaan. Namun, entah karena dia berharap terlalu tinggi, atau apa, yang ia terima tak lain serangkaian kegagalan. Berbekal pengalaman semasa revolusi 1945, ia pun mencoba mendaftar masuk TNI. Sayang, ia kembali ditolak.
 Penyebab penolakan Kusni masuh TNI karena selain karena tak pernah terdaftar dalam kesatuan pejuang, ia pun cacat fisik. Kaki kirinya sedikit timpang terserempet tembakan yang dia peroleh semasa perang. Kusni Kasdut menjadi orang terbuang meski bisa dibilang dia merupakan pejuang kemerdekaan.

Kusni Kasdut kemudian berteman dengan Bir Ali. Ali seorang laki-laki asal Cikini kecil (sekarang wilayah sekitar Hotel Sofyan), mantan suami penyanyi Ellya Khadam. Nama lengkapnya Muhammad Ali, dijuluki Bir Ali karena kesukaannya menenggak bir sebelum melakukan aksi. Kelak, Muhammad Ali menjalani hukuman mati pada 16 Februari 1980 karena membunuh Ali Badjened, seorang Arab kaya raya, saat merampok rumahnya.

Saat Kusni masuk, geng itu sudah beranggotakan Ali, Usman, Mulyadi dan Abu Bakar. Ketiganya memberikan posisi pemimpin karena melihat bakat memimpin yang Kusni Kasdut miliki. Pelan tapi pasti, satu persatu kejahatan membuat Kusni ketagihan.

Pengalaman tertangkap Belanda semasa revolusi membuat Kusni memandang penjara sebagai lembaga tempat penyiksaan. Karena itu, untuk menghindari penangkapan yang berujung penjara, dia rela membunuh korbannya bila dirasa terpaksa. Kusni, kemudian seolah monster haus darah dalam setiap aksinya.

Berbekal sepucuk pistol, tahun 1960-an, Kusni bersama Bir Ali merampok dan membunuh seorang Arab kaya raya bernama Ali Badjened. Ali Badjened dirampok sore hari ketika baru saja keluar dari kediamannya di kawasan Awab Alhajiri, Kebon Sirih. Dia meninggal saat itu juga akibat peluru yang ditembakkan Ali dari atas jeep. Perampokan pada masa itu sangat menggegerkan.
 Berselang satu tahun, pada 31 Mei 1961, Jakarta kembali gempar. Tak lain karena Museum Nasional Jakarta (Gedung Gajah) dirampok gerombolan Kusni Kasdut. Ibarat film, Kusni yang menggunakan jeep dan mengenakan seragam polisi, menyandera pengunjung dan menembak mati seorang petugas museum. Dalam aksi nekat itu ia membawa lari 11 butir permata koleksi museum. Segera Kusni Kasdut jadi buronan terkenal.

Sekian tahun buron, Kusni Kasdut tertangkap ketika mencoba menggadaikan permata hasil rampokannya di Semarang. Petugas pegadaian curiga karena ukurannya yang tidak lazim. Akhirnya dia ditangkap, dijebloskan ke penjara dan divonis mati atas rangkaian kejahatannya. Kusni Kasdut akhirnya dieksekusi mati pada 16 Februari 1980 di sebuah daerah di Gresik, Jawa Timur.

Di hari-hari terakhir hidupnya, Kusni bertaubat dan menyesali kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan. Itu karena perkenalannya di penjara dengan seorang pemuka agama Katolik. Ia pun memutuskan menjadi pengikut setia, dan dibaptis dengan nama Ignatius Kusni Kasdut.
Sebelum dieksekusi mati, beberapa hal yang diminta Kusni dipenuhi. Dia menikmati sembilan jam terakhirnya di ruang kebaktian Katolik LP Kalisosok, dikelilingi anggota keluarganya: Sunarti (istri keduanya), Ninik dan Bambang (anak dari istri pertama), Edi (menantu, suami Ninik) dan dua cucunya, anak Ninik. Kusni juga menikmati jamuan makan terakhir dengan lauk capcai, mie dan ayam goreng.
Pada masanya, Kusni adalah penjahat spesialis barang antik. Kisahnya sebagai sosok penjahat berdarah dingin ternyata tidak hanya dikenang oleh para korban atau keluarga korban. Ia juga sempat dijuluki 'Robin Hood Indonesia', karena ternyata hasil rampokannya sering di bagi-bagikan kepada kaum miskin.

Jumat, 12 Desember 2014

Kisah lucu Sultan Yogya dimarahi & ditodong TNI penjaga istana

Reporter : Ramadhian Fadillah
Merdeka.com - Sri Sultan Hamengkubuwono X memilih mengalah saat rombongan Presiden Jokowi melintas. Dia ikut menepi saat voorijder pengawal Jokowi memerintahkan rakyat memberikan jalan untuk rombongan pejabat.

Aksi Sultan X ini mengingatkan apa yang dilakukan oleh ayahnya, Sultan Hamengkubuwono IX. Sang Raja Jawa ini memang dikenal egaliter. Tak mau disanjung berlebihan, tapi justru karena itu Sultan Yogya sangat dihormati dan dicintai oleh rakyat dan seluruh penduduk Indonesia.

Ada kisah menarik soal Sultan HB IX. Lagi-lagi gara-gara Sultan tak mau pakai pengawal dan pakai mobil biasa saat blusukan.

Pada Bulan Oktober 1950, Sultan HB IX menjabat wakil perdana menteri di Kabinet Natsir. Bersama A Halim yang menjabat Menteri Pertahanan ad interim, mereka menuju Istana Bogor untuk meninjau proses renovasi.

Kisah ini dituliskan AR Baswedan dalam buku Tahta Untuk Rakyat yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta tahun 2011.

Halim menyopir sendiri mobil itu, bergantian dengan Sultan. Tak ada pengawal atau ajudan yang menyertai mereka.

Saat tiba di Istana Bogor, penjaga di pos depan istana tak memperhatikan mobil yang masuk. Sultan dan Halim pun segera masuk Istana tanpa melapor.

Tiba-tiba beberapa orang penjaga dari Polisi Militer segera sadar. Mereka bergegas mengejar mobil itu. Mobil Sultan dihentikan dengan todongan senjata.

"Hei, apa-apaan ini! Stop segera!" teriak para penjaga Istana.

Komandan Polisi Militer itu menghampiri Halim. Dia membentak menteri pertahanan itu dengan mata melotot.

"Kenapa masuk saja tanpa berhenti lebih dulu? Apa tidak lihat penjagaan?" bentaknya.

Halim mengeles. "Saya hanya sopir, dan karena tidak ada orang yang menyuruh berhenti saya terus saja. Lagipula Tuan yang berada di sebelah saya ini tidak menyuruh saya berhenti," kata Halim sambil melirik Sultan.

Sultan diam saja. Para prajurit itu semua mengerubungi mobil tersebut, mencoba mengenali siapa orang di samping sopir tersebut. Tiba-tiba mereka tersadar.

"Apakah Bapak bukan Sri Sultan?" tanya pemimpin mereka.

Sultan mengangguk. Para tentara itu langsung terperanjat. Siapa yang tidak gentar mengingat Sultan HB IX dan perjuangannya mempertahankan Yogyakarta selama agresi militer Belanda.

"Siaaap! Beri Hormaaat!" teriak sang komandan sigap. Perintah ini lalu spontan diikuti seluruh anak buahnya.

Sultan tak marah dengan penodongan dan bentakan para penjaga itu. Dia segera melakukan peninjauan. Bahkan sempat makan duku di pinggir kali Ciliwung yang membelah Istana.

"Ketika dua jam kemudian kami meninggalkan istana untuk pulang, di pintu gerbang telah siap satu kompi untuk memberi hormat pada mobil kami," kenang Halim