 |
| Bang Pii (tengah). ©2015 Merdeka.com/Wordpress |
Merdeka.com - Wajah dalam foto itu tak asing. Mukanya tampan
dengan kumis tipis melekat. Namun banyak orang tak mengenal lelaki dalam
foto itu. Dialah Imam Syafi'ie, kesohor dengan panggilan Bang Pi'ie.
Era tahun 1960 an, Bang Pi'ie ditakuti oleh para bandit di sekitaran
Jakarta.
Bang
Pi'ie begitu dia hangat disapa merupakan salah satu pahlawan negeri
ini. Dia bekas jawara Pasar Senen di Jakarta Pusat dan satu-satunya
jagoan yang pernah mengisi Kabinet Pemerintahan di negeri ini.
Jabatannya mentereng, Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet Dwikora
bentukan Presiden
Soekarno.
Perjalanan
panjang Bang Pi'ie begitu berwarna. Sejak usianya 4 tahun, Bang Pi'ie
sudah menjadi anak yatim. Anak ke dua dari empat bersaudara ini terpaksa
harus dititipkan kepada bibinya, Zaenab pedagang makanan di Pasar
Senen. Di usia itu Syafi'ie sudah berpikir bagaimana memberi makan
ibunya dan dua adiknya, Muhammad Safrie dan Supenah.
Usia 5 tahun
Pi'ie kecil membuat komplotan sesama anak seusianya. Dia mengkoordinir
teman-temannya di Pasar Senen untuk mengambil sayur-sayuran maupun
beras. Hasil itu yang kemudian dikirim kepada ibunya di Bangka, Jakarta
Selatan.
"Ibaratnya kalau sekarang anak kolong. Jadi kalau ada
bongkaran sayuran dia ambil sayuran. Kalau ada beras dia kumpulin
beras," kata anak Bang Pi'ie, Edi Syafi'ie saat berbincang dengan
merdeka.com kemarin di Hotel Milenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Edi merupakan anak dari istri ketiga Bang Pi'ie, Fitriyana.
Sebelum
dititipkan kepada bibinya, Syafi'ie telah diminta kerabat ayahnya,
Habib Qodir Al-Hadad, seorang ulama asal Pasar Sawo, Kebon Nanas,
Jakarta Timur. Permintaan itu memang diamanatkan oleh mendiang ayahnya,
Mugeni sebelum pergi menghadap sang khalik. Mugeni meninggal setelah
ditebas golok dari belakang oleh adik seperguruannya bernama Ayub.
Tujuan menghabisi Mugeni, kata dia, buat menguasai Pasar Senen.
"Kakek saya dulu jawara di Pasar Senen, dia asli Marunda," ujar Edi.
Di
usia tujuh tahun, Syafi'ie kecil mulai belajar ilmu beladiri. Habib
Qodir, ayah angkatnya mempunyai tujuan biar Bang Pi'ie jadi jawara. Ada
32 guru mengajarkan Syafi'ie ilmu beladiri. Dari tiga saudara kandung
laki, hanya Syafi'ie yang dibawa Habib Qodir untuk berguru. Alasannya,
Syafi'ie memiliki kekuatan buat menerima berbagai ilmu. Dari 32 guru,
salah satunya Haji Darif, pahlawan asal Klender, Jakarta Timur.
"Guru-gurunya secara bergantian mengajarkannya," tutur Edi.
Hingga
akhirnya, Syafi'ie kecil harus mendekam dibalik jeruji besi penjara
anak di Tangerang. Ada kisah menarik saat dia dijebloskan ke dalam
penjara. Meski usianya baru 11 tahun, Bang Pi'ie sudah menjadi jawara di
lapas itu. Bang Pi'ie hanya cukup waktu semenit melumpuhkan jawara
dalam lapas anak Tangerang.
Ceritanya begini, waktu baru masuk,
Bang Pi'ie di pecundangi, dia dipukul oleh anak berdarah Ambon, penguasa
Lapas Tangerang. Bang Pi'ie menangkis pukulan, dia lantas mengalahkan
jawara lapas itu seorang diri. Sejak saat itu, namanya makin kesohor.
Apalagi, bang Pi'ie ditangkap lantaran dia dituding mengorganisir para
preman di Pasar Senen.
"Dia ditangkap dan dibawa ke LOG. Hanya
setahun dia mendekam," katanya. Perjalanan Bang Pi'ie memang banyak
dihabiskan di Pasar Senen. Namun namanya tetap kesohor di kalangan anak
muda sekitar Jakarta. Usia 16 tahun usai kembali berguru, Bang Pi'ie
mulai mengorganisir teman-temannya di Pasar Senen dan pada usia 19
tahun, Syafi'ie mulai kesohor sebagai Jawara setelah mengalahkan
pimpinan preman bernama Muhayar asal Cibedug, Bogor, Jawa Barat. Muhayar
merupakan pengganti, Ayub, teman seperguruan mendiang ayahnya.
"Dia mengalahkan Muhayar. Muhayar ini pengganti Ayub yang membunuh kakek saya," ujar Edi.
Tersohornya
nama Bang Pi'ie membuat dia disegani hingga berbagai pelosok di luar
Jakarta. Masuknya Jepang pada tahun 1943 membuat nama Bang Pi'ie
ditunjuk sebagai pimpinan laskar bambu runcing. Isinya para jawara dari
Jakarta, Depok, Tangerang hingga Bekasi. Laskar ini ikut berjuang saat
detik-detik sebelum kemerdekaan.
Haji Darif dari Klender pernah
berkongsi dengan Bang Pi'ie sebelum kemerdekaan. Dia bersama laskarnya
ikut berjuang ketika memerdekakan negeri ini dari para penjajah. "Dulu
pimpinan laskar itu Pak Syafi'ie. Bapak dulu di bawah komando dia," kata
Uung, anak dari Haji Darif saat berbincang dengan merdeka.com beberapa
waktu lalu.
Sebagai orang dekat dengan
Soekarno,
setelah kemerdekaan, Bang Pi'ie diangkat menjadi Menteri Keamanan
Rakyat. Dia dinilai mampu mengkoordinir para bandit untuk tidak berbuat
onar. Maklum, setelah proklamasi kemerdekaan, situasi keamanan makin
tidak terkendali lantaran banyak terjadi perampokan.
Anak bekas
Sekondan Menteri Keamanan Rakyat di bawah bang Pi'ie, Mat Depok
menuturkan jika ayahnya memang dipercaya untuk membantu Bang Pi'ie
mengendalikan para bandit. Bahkan dia pernah ikut mengalami perjuangan
bersama Bang Pi'ie saat pertempuran dengan tentara Belanda di Bekasi,
Jawa Barat. "Iya ayah saya pernah menjadi sekondan menteri Pak
Syafi'ie," ujar Kong Nisan, anak Mat Depok saat ditemui di kediamannya,
Tanah Baru, Depok, Jawa Barat pertengahan tahun lalu.
Soekarno berkuasa, Bang Pi'ie diangkat menjadi Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet 100 hari Menteri bentukan Presiden Soekarno