Senin, 14 Desember 2015

Pertempuran sengit & berdarah di Dili, Kopassus Vs Tropaz

Reporter : Ramadhian Fadillah

Operasi Seroja. ©2015 buku hari "h": 7 desember 1975
Merdeka.com - 7 Desember 1975, TNI menggelar operasi lintas udara terbesar untuk menguasai Kota Dili, Timor Portugal. Jumlah pasukan yang diterjunkan 270 orang Prajurit Para Komando dari Grup I Kopasandha (kini Kopassus TNI AD) dan 285 prajurit Yonif 501.

Banyak kelemahan dari operasi penyerbuan itu. Antara lain data intelijen yang salah. Disebutkan musuh yang menjaga Kota Dili hanya sekelas dengan Hansip. Ini salah besar.

Demikian ditulis dalam buku Hari H 7 Desember 1975, Reuni 40 Tahun Operasi Lintas Udara di Dili, Timor Portugis yang disunting Atmadji Sumarkidjo dan diterbikan Kata.

Tropaz adalah pasukan didikan Portugis yang kenyang dengan pengalaman tempur gerilya. Mereka diterjunkan untuk menumpas pemberontakan di daerah jajahan Portugis seperti Angola dan Mozambik. Mereka juga kemampuan menembak yang sangat baik.

Pasukan TNI sudah ditembaki sejak masih melayang di udara. Pilot TNI AU terpaksa membatalkan sejumlah penerjunan karena pesawat diberondong tembakan dari bawah. Seorang load master di dalam C-13o Hercules tewas tertembak. Akibatnya 72 prajurit Kopassus batal diterjunkan.

Para prajurit yang terjun tak bisa membalas tembakan. Senapan AK-47 mereka masih terikat di paha.

Begitu mendarat mereka langsung mencari kelompoknya dan terlibat dalam pertempuran sengit. Beberapa prajurit baret merah tersungkur ditembus peluru Tropaz.

Sementara itu, Komandan Nanggala V/Kopasandha Letkol Inf Soegito berlindung di balik tembok. Ternyata di balik tembok itu terlihat beberapa orang Tropaz sedang menembak bertubi-tubi ke arah pasukan yang baru mendarat.

Soegito melemparkan granat ke dalam ruangan. Namun apes, granat buatan Pindad itu tak meledak.

Dia mencabut granat kedua buatan Korea Selatan. "Blaaaar!!" ledakan keras terdengar hingga dinding bergetar.

Beberapa orang yang terluka berhamburan keluar. Tanpa ba-bi-bu, Soegitu menarik picu senapan otomatisnya. Rentetan peluru kaliber 7,62 mm segera menyiram dan menghabisi orang-orang berseragam hijau itu.

Dili dipenuhi suara tembak menembak hari itu. Senapan serbu AK-47 milik Kopasandha versus senapan G3 standar NATO milik Tropaz dan Fretilin.

Siang harinya, pasukan baret merah itu berhasil menguasai Pelabuhan. Letkol Soegito menggunakan sebuah bangunan yang belum jadi untuk markas Grup. Dia mulai bisa mengontak pasukannya yang berceceran.

Di sinilah Soegito menerima kabar Mayor Inf Muji Raharjo tertembak di bagian leher. Lukanya sangat parah. Namun ajaib, nyawanya masih bisa tertolong. Dia bisa sembuh karena peluru tidak merobek syarafnya.

Kota Dili bisa direbut hari itu juga. Pasukan Tropaz dan Fretilin mundur ke gunung untuk meneruskan perang Gerilya. Kemenangan yang harus dibayar mahal dengan gugurnya 19 anggota Kopasandha dan 35 prajurit Yonif Linud 501.

Sementara dari pihak musuh sedikit simpang siur. Ada yang menyebut 122 orang Pasukan Tropaz tewas, ada juga yang mencatat 105 orang. Selain itu puluhan pucuk senjata G-3 juga berhasil direbut.
[ian]

Minggu, 22 November 2015

DISERSI…Tentara Perang Dunia 2 Ini Lantas Menculik Bung Karno

 
Jusuf Kunto. Foto: Public Domain.
INI cerita tentang orang Indonesia yang jadi balatentara Jepang ketika Perang Dunia 2.
Namanya Jusuf Kunto. Satu di antara pemuda yang memaksa Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Nama sebenarnya Kunto. Lahir di Salatiga, 8 Agustus 1921. 
Kunto kecil ikut ayahnya merantau ke Pangkal Pinang, Sumatera. 
Sebagai anak seorang mantri kesehatan di zaman Belanda, Kunto berkesempatan mengenyam pendidikan di Hollandsch Chinesche School. 
Kemudian hari, lanjut ke Hoogere Burgerschool (HBS) Semarang.
Kunto termasuk anak pemberani--jika sungkan menyebutnya nakal.  Dia pernah menikam polisi Belanda. 
Gara-gara itu Kunto buron. Sejak itu, dia menambah nama depannya; Jusuf. 
Oleh koleganya, sang buronon diselundupkan ke Jepang. 
"Di Negeri Sakura, ia sekolah di Politeknik, Waseda University," tulis Her Suganda, termuat dalam Kisah Istimewa Bung Karno.
Perang Dunia 2
Saat asyik-asyik menimba ilmu di Jepang, Perang Dunia 2 pecah. Jepang tampil ke muka. 
Menurut Her Suganda, Jusuf Kunto termasuk salah seorang dari rombongan terakhir pemuda-pemuda Jepang yang direkrut menjadi pilot bala tentara jepang. 
"Ia sempat bergabung dengan salah satu skuadron pesawat tempur Jepang dan menyerang Kepulauan Hawaii, beberapa pulau lainnya di Pacific, pengintaian dan pemboman Port Moresbi Irian Timur," paparnya.
Dalam buku Rengasdengklok yang juga ditulis oleh Her Suganda, dalam sebuah pertempuran udara, pesawatnya tertembak Sekutu, saat terjadi pertempuran di Morotai dan Halmahera, Maluku Utara.

"Kapten Penerbang Jusuf Kunto menderita luka parah," tulis Her Suganda. 
Ia dibawa ke Jakarta dan dirawat di Centrale Burgelijke Ziekenhuis (CBZ), yang kini jade Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Gerakan Revolusioner
Semasa menjalani perawatan, Jusuf Kunto banyak menjalin hubungan dengan mahasiswa Ika Daigaku, sekolah kedokteran di zaman Jepang. 
Di Jakarta, anak-anak Ika Daigaku menjalankan gerakan bawah tanah untuk Indonesia merdeka. Geng ini terkenal dengan nama Asrama Prapatan 10. 
Ia pun disersi dari ketentaraan dan memilih bergabung dengan gerakan pemuda revolusioner.
Di samping menjalin hubungan persekawanan di ranah gerakan, dia juga menjalin hubungan cinta dengan mahasiswi Ika Daigaku. 
Mahasiswi yang bernama Murtiningrum itu akhirnya dikawininya. 
Di gerakan bawah tanah, Jusuf Kunto tak sekadar ikut-ikutan. Istilahnya dia masuk jadi "orang dalam".
Tak ayal jika dia terlibat dalam aksi yang dirancang pemuda-pemuda revolusioner sewaktu memaksa hingga menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.
Dua orang Bung tersebut diminta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, menyusul berakhirnya perang dunia kedua, 15 Agustus 1945, ditandai dengan kekalahan Jepang terhadap Sekutu. 
Intelijen
Di alam Indonesia Merdeka, ketika ibu kota Republik Indonesia di Yogyakarta, Jusuf Kunto menjabat Staf Oemoem I (SO-I) Markas Besar Tentara (MBT) di Benteng Vredenburg. 
Dia, "menekuni bidang intelijenbersama Zulkifli Lubis," ungkap Her Suganda.
Ketika Belanda melancarkan agresi militer ke Yogyakarta, dia memindahkan markasnya dari Yogya ke Pakem. 
Selama itu pula dia kerap menyamar keluar masuk Yogya. Gaya-gaya intelijen.
Perang masih berkecamuk ketika kesehatannya menurun, dan kemudian berpulang pada 2 Januari 1949 di Yogyakarta.
Akibat radang paru-paru, Jusuf Kunto mati muda. Usianya 28 tahun.
Pemuda penculik Soekarno itu dimakamkan di pekuburan umum Badran, dekat kuburan China di sebelah barat stasiun Tugu, Yogyakarta. (wow/jpnn)

Minggu, 06 September 2015

Daan Mogot Bukan Sekadar Nama Jalan, Inilah Pertempuran Terakhirnya

DAAN Mogot berumur 17 tahun ketika Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Pemuda kelahiran Manado, 28 Desember 1928 itu mati muda. Gugur saat hendak melucuti senjata tentara Jepang di desa Lengkong, Serpong, Tangerang.  
Mayor Daan Mogot. Foto: Istimewa.

Hari itu almanak bertarekh 25 Januari 1946. Ba’da Sholat Jumat, Mayor Daan Mogot memimpin para taruna Akademi Militer Tangerang (AMT) berangkat dengan tiga truk dan satu jip militer dari markas Resimen IV TRI menuju markas Jepang di desa Lengkong. 
Dalam rombongan itu ada empat orang eks Gurka--tentara bayaran Inggris--dari India yang membelot ke republik. Ke-empatnya didandani bak pasukan Sekutu. Mengenakan uniform ala tentara Inggris. Maksudnya mau tipu-tipu, seolah itu operasi gabungan TKR-Sekutu sebagai pemenang perang dunia kedua yang akan melucuti Jepang.
Aksi ini sudah direncanakan baik-baik oleh Daan Mogot, selaku pendiri sekaligus Direktur Akademi Militer Tangerang bersama Kapten Soebianto Djojohadikoesoemo dan Letnan Soetopo. “Keberangkatan siang itu diliputi suasana optimis,” tulis Moehkardi dalam buku Pendidikan Perwira TNI AD di Masa Revolusi
Sesampai di tujuan, Daan Mogot berunding dengan Kapten Abe, pimpinan tentara Jepang di Lengkong. Mereka sudah saling kenal sebelumnya, mengingat semasa pendudukan Jepang, pemilik nama asli Elias Daniel Mogot ini pernah menjadi pelatih PETA di Bali dan Jakarta. 
Perundingan berlangsung baik. Daan didampingi Alex Sajoeti, taruna AMT yang mahir berbahasa Jepang. Di luar ruang runding, Soebianto dan Soetopo sudah mengerahkan para taruna AMT masuk barak. Sekira 40 serdadu Jepang dijejer di lapangan. Senjata mereka dikumpulkan. Para “saudara tua” itu termakan muslihat. 
“Mereka percaya bahwa yang sedang bertugas adalah operasi gabungan TKR-Sekutu,” tulis Rosihan Anwar, Ramadhan KH, Ray Rizal, Din Madjid dalam buku Kemal Idris--Bertarung dalam Revolusi

Tiba-tiba sore yang tenang itu berubah gaduh. Terdengar rentetan senapan. Entah dari mana arahnya. Ini terjadi di luar rencana. Serdadu Jepang yang sudah terlatih sontak merebut senjata. Terjadi baku tembak hingga “perkelahian sangkur satu lawan satu,” kenang Moehkardi.
Pasukan republik tak mampu mengalahkan saudara tua. Daan Mogot, dua perwira yang mendampinginya--Soebianto dan Soetopo--serta 33 orang taruna AMT gugur. Tiga puluhan orang lainnya ditawan. Para tawanan dipaksa menggali dan mengubur para kawannya.    
Empat hari kemudian, 29 Januari 1946 diadakan pemakaman ulang. “Saya spesial datang ke situ sebagai wartawan harian Merdeka,” kenang Rosihan Anwar.  
Hari itu, sebagaimana ditulis Rosihan, banyak pejabat hadir. Ada Haji Agus Salim, yang anaknya Sjewket Salim—taruna AMT turut gugur. Hadir juga Margono Djojohadikusumo pendiri BNI yang kehilangan dua putranya; Kapten Subianto dan taruna Soejono.
Saat prosesi pemakaman ulang, dari kantong baju jasad Soebianto--paman dari Prabowo Soebianto yang tempo hari nyapres--ditemukan selarik puisi karya Henriette Roland Holst, penyair perempuan komunis Belanda sahabat Bung Hatta. 

wij zijn de bouwers van de temple niet/wij zijn enkel de sjouwers van de stenen/wij zijn het geslacht dat moest vergaan/opdat een betere oprijze uit onze graven
Rosihan menerjemahkan, “kami bukan pembangun candi/kami hanya pengangkut batu/kamilah angkatan yang mesti musnah/agar menjelma angkatan baru/di atas kuburan kami telah sempurna.”
Kini, sajak itu terukir di pintu gerbang Taman Makam Pahlawan Taruna, Tangerang. Dan untuk mengenang keberanian sang pemimpin pertempuran tersebut, nama Daan Mogot diabadikan pada sebuah jalan raya di Jakarta Barat. (wow/jpnn)

Jumat, 21 Agustus 2015

Kisah Pak Harto kecewa lihat Patwal Polisi tak pedulikan rakyat

Reporter : Ramadhian Fadillah

 Jangan sampai rombongan presiden mengganggu aktivitas rakyat terlalu lama. Apalagi untuk urusan yang bukan kedinasan.

- Soeharto
Soeharto. ©repro Museum Purna Bhakti Pertiwi

Merdeka.com - Banyak orang merasa paling penting di jalan. Mulai dari konvoi moge hingga arak-arakan pejabat. Apalagi jika sudah dikawal aparat.

Ada cerita menarik soal pengawalan polisi. Presiden Kedua RI Soeharto mengaku sempat kecewa dengan sikap polisi yang mengawalnya. Dia menganggapnya terlalu berlebihan dan membuat pengguna jalan lain terganggu.

Kisah tersebut diceritakan Jenderal (Purn) Wiranto yang saat itu masih berpangkat kolonel dan menjadi ajudan Pak Harto. Rombongan presiden melaju dari Istana Negara menuju Bandara Halim untuk terbang ke daerah. Di pintu Tol Semanggi, Wiranto mengaku pundaknya ditepuk Soeharto.

"Wiranto, beri tahu polisi, itu kendaraan di jalan tol tak perlu diberhentikan. Mereka itu membayar untuk bebas hambatan, bukan malah distop gara-gara presiden lewat. Kalau mereka dibiarkan jalan pelan-pelan kan tidak mengganggu rombongan,"
kata Wiranto menirukan ucapan Soeharto kala itu.

Wiranto mengaku terkejut dengan permintaan Soeharto. Sebagai presiden yang memiliki prioritas di jalan, ternyata Soeharto masih memikirkan pengguna jalan lain.

Peristiwa kedua terjadi saat Soeharto akan main golf di Rawamangun. Selain mobil presiden, hanya ada satu jip pengawal di belakang yang mengikuti. Namun rupanya polisi sudah terlalu lama menutup jalan. Klakson terdengar riuh di jalan.

"Lain kali polisi tidak perlu menyetop mereka terlalu lama. Mereka kan punya keperluan yang mendesak, sedangkan saya hanya mau berolahraga. Jadi biar saja saya menunggu sebentar, kan tidak apa-apa," kata Soeharto.


Menurut Wiranto, Pak Harto berkali-kali meminta adanya perbedaan antara pengawalan dinas dan pengawalan untuk sehari-hari. Jangan sampai rombongan presiden mengganggu aktivitas rakyat terlalu lama. Apalagi untuk urusan yang bukan kedinasan.

"Pergi ke Tapos yang jaraknya cukup jauh sekalipun, Pak Harto hanya dikawal secukupnya. Tidak mencolok dan tidak harus mengganggu aktivitas masyarakat," beber Wiranto.

Nah, kalau Presiden Soeharto saja dulu begitu memikirkan pengguna jalan lain, apa tidak malu mereka yang masih arogan di jalan?

Minggu, 19 Juli 2015

Begini Salat Id di Zaman Penjajahan Belanda yang Digelar di Lapangan Banteng

Laporan Dari Den Haag - Eddi Santosa - detikNews
Foto: dok bataviadigital.perpusnas.go.id

Den Haag - Salat di lapangan dengan pengeras suara tidak dilarang. Pemerintah kolonial bahkan menyediakan transportasi ekstra. Begini suasana Idul Fitri di Batavia ketika zaman Belanda.


Pelaksanaan ibadah salat Idul Fitri di zaman penjajahan Belanda tidak dilarang dan bahkan diizinkan di tempat terbuka. Salah satunya yang diliput oleh media adalah di Waterlooplein (Lapangan Waterloo), kini Lapangan Banteng.

"Tahun ini adalah kedua belas kalinya ibadah ritual semacam itu diselenggarakan di tempat terbuka di ibukota negara," tulis Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie, halaman 6 kolom 2 (9 November 1939) dikutip detikcom, Minggu (19/7/2015).

Sebelum hari raya, media sudah mewartakan apakah Aidil Fitri-gebed (salat Id, red) di Waterlooplein jadi dilaksanakan atau tidak.

Panitia untuk salat Id di Waterlooplein terdiri dari 14 organisasi massa dan mendapat sokongan dari berbagai pihak.

Pada hari Idul Fitri pemerintah mengerahkan tram ekstra dari Meester-Cornelis dan Benedenstad (Batavia Lama, kini Kota, red) untuk memudahkan mobilitas umat Islam menuju Waterlooplein.

Demikian juga dengan pengeras suara dibolehkan dipasang, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Bertindak selaku khotib adalah Hadji Mochtar, mantan anggota Mohammadijah, kini anggota Hof voor Islamietische Zaken (Mahkamah Urusan Agama Islam), sementara Hadji Mohamad Isa, Ketua Hof voor Islamietische Zaken sebagai imam.
(es/dra)

 

Rabu, 08 Juli 2015

Pilot Inggris percaya orang Indonesia ini bawa hoki saat perang

Reporter : Ramadhian Fadillah

Halim Perdanakusuma. ©repro buku Baret Jingga
Merdeka.com - Pria ini lahir di Sampang Madura tahun 1922. Sempat bergabung dengan Angkatan Laut Belanda. Saat Jepang datang menyerang, kapalnya ditorpedo Jepang hingga karam.

Beruntung nyawanya diselamatkan kapal perang Inggris. Dia pun dibawa ke India. Pria tersebut kemudian meminta bergabung dengan Royal Air Force. Dia kemudian bergabung dengan skadron pesawat pengebom Inggris dan menjadi perwira navigasi. Selama bertugas, dia tercatat 42 kali melakukan bombardir di wilayah Jerman dan Prancis.

Setiap dia ikut misi pengeboman, seluruh pesawat bisa pulang dengan selamat. Padahal biasanya serangan ke wilayah musuh selalu memakan korban akibat amukan meriam antipesawat udara milik Jerman.

Karena itu pria Indonesia dianggap membawa keberuntungan bagi para pilot dan kru pesawat Lancaster dan Liberator Inggris. Dia diberi julukan The Black Mascot atau si jimat hitam oleh rekan-rekannya.

Nama asli The Black Mascot adalah Abdul Halim Perdanakusuma. Begitu Indonesia merdeka, dia bergabung dan menjadi salah satu pionir berdirinya TNI AU. Pengalamannya menjadi perwira RAF di Perang Dunia II sangat berguna untuk membangun TNI AU.
Halim diserahi tugas sebagai perwira operasi. Dialah yang merancang serangan udara pertama TNI AU pada tangsi militer Belanda di Ambarawa, Magelang dan Semarang. Serangan tanggal 29 Juli 1947 dilakukan dengan pesawat tua peninggalan Jepang. Karena keterbatasan, bom bahkan hanya diikat dengan tali di sayap pesawat.

Serangan tersebut berhasil. Belanda dan dunia internasional terkejut angkatan udara Indonesia yang baru berumur hitungan bulan berhasil melakukan serangan udara.

Perwira senior TNI AU ini juga melakukan sejumlah penerbangan menembus blokade Belanda. Jasanya sangat besar dalam membawa senjata, amunisi dan obat-obatan selama perang kemerdekaan.

Halim Perdanakusuma juga yang melakukan penerbangan ke Maguwo (Yogyakarta) ke Tjililitan ( Jakarta). Penerbangan dilakukan untuk memompa semangat perjuangan rakyat dan menunjukkan eksistensi TNI AU.

Tanggal 14 Desember 1947, Halim Perdanakusuma dan Iswahjudi melakukan penerbangan dari Thailand ke Bukittinggi. Mereka terjebak badai hingga akhirnya pesawat Avro Anson itu jatuh di Selat Malaka. Halim baru empat bulan menikah saat kecelakaan maut itu mencabut nyawanya.

Tahun 1975 pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada Halim Perdanakusuma. Namanya diabadikan menjadi nama Lapangan Udara di Jakarta.
[ian]

Kamis, 25 Juni 2015

Kisah TNI AU mau bom pangkalan jet tempur Inggris di Singapura

  Reporter : Ramadhian Fadillah

B-26 Invader. ©repro buku Baret Jingga
Merdeka.com - Tahun 1965, Inggris membangun pangkalan utama di Singapura. Pangkalan Udara Militer Tengah Air Force Base menjadi markas jet tempur Inggris.

Saat itu hubungan Indonesia dan Malaysia sedang memburuk. Malaysia meminta bantuan Inggris, Australia dan Selandia Baru. Bantuan langsung datang. Pesawat jet, kapal perang, hingga pasukan elite mereka disiagakan di perbatasan dengan Indonesia.

TNI AU melihat Pangkalan Udara Inggris di Singapura sebagai ancaman. Komando Mandala Siaga (Kolaga) merancang rencana untuk mengebom pangkalan tersebut.

Panglima Komando Operasi Komodor Leo Watimena memimpin briefing di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

"Pangkalan Udara Militer Tengah Air Force Base dijaga dengan radar dan misil anti serangan udara. Bukan tugas mudah untuk menyerang dan menghancurkannya," kata Komodor Leo Watimena.

Dia melihat para komandan skadron di depannya. "Siapa di antara kalian yang siap berjibaku menghancurkan tengah ABF?" tanya Leo.

"Saya siap Panglima!" teriak seorang perwira senior.

Tantangan itu dijawab dengan gagah oleh Komandan Skadron I Pembom Taktis Kolonel (Oedara) Pedet Soedarman. Dia merasa perlu mengobarkan semangat anak buahnya dalam konfrontasi melawan Malaysia dan sekutunya.


Pedet Soedarman pilot berpengalaman. Dia kenyang pengalaman menerbangkan pesawat jenis B-25 Mitchel dan B-26 Invander dalam menumpas berbagai penumpasan pemberontakan yang terjadi di tanah air.

Maka saat merencanakan mengebom Tengah ABF, 2 pesawat itu juga yang akan digunakannya. Demikian dikisahkan Pedet Soedarman dalam buku Pengalaman Heroik Penerbang Bomber tahun 2003.

"Direncanakan 50 persen bom yang dijatuhkan dari pesawat itu akan mampu menghancurkan landasan sekaligus mencegah musuh melakukannya," kata Pedet.

Rencana dan persiapan terus dilakukan. Moril para anggota TNI AU tinggi untuk melaksanakan tugas itu.

Namun angin berubah cepat. Peristiwa G30S mengubah peta politik Indonesia. Presiden Soekarno jatuh dan penggantinya, Presiden Soeharto memutuskan untuk mengakhiri konflik dengan Malaysia.

Dalam waktu singkat pula TNI AU menderita akibat pemerintah Orde Baru memutus semua kerja sama dengan Rusia dan China. Pesawat-pesawat paling canggih milik TNI AU tak bisa terbang gara-gara kekurangan suku cadang. Berakhirlah era Macan Terbang Asia.

Misi mengebom pangkalan jet tempur itu tak pernah digelar